EKSPLORASI: Day 2.

Sebelumnya: EKSPLORASI: Day 1.

Jam 7:40 pagi WIB. 
Kereta sampai di Stasiun Lempuyangan. Kami buru-buru turun, sampai minumanku ketinggalan. Untungnya aku sengaja membawa minumnya Aqua botol, jadi kalau tertinggal juga, ya sudah. Tapi sayangnya minuman tehku ketinggalan padahal masih lumayan banyak..

Setelah kami turun, beberapa dari kami ke toilet dulu atas saran kakak-kakak fasilitator.
Saat kami ke toilet, kami sudah melihat Andro di pintu keluar dekat toilet!
Kami melambaikan tangan kepadanya, tetapi dia pura-pura tidak kenal 😐

Saat yang lain sudah selesai, kami menghampiri Andro.
Ternyata kami salah pintu keluar XD
Kami keluar dari pintu Barat (kalau tidak salah), jadi kami harus memutar dari luar stasiun untuk sampai ke pintu Timur.  

Saat kami sampai di ruang tunggu pintu Timur, kami langsung bertemu dengan kakak-kakak fasilitator. Kakak-kakaknya ada 3 orang, 1 laki-laki dan 2 perempuan.

img_20161213_072625
Mengenal kakak-kakak fasilitator. CREDIT: Jaladwara
img_20161213_075238
Sampai di St. Lempuyangan. Dari ki-ka: Aku, Yudhis, Andro, Kaysan, Zaky, Fattah, Ceca, Donna, Adinda, Kak Melly. Bawah: Kak Inu. CREDIT: Jaladwara

Mereka memperkenalkan diri. Ada Kak Kukuh, Kak Melly, dan Kak Inu.

IMG_5780.JPG
Kakak-kakak fasilitator. Dari ki-ka: Kak Kukuh, Kak Inu, Kak Melly, Adinda. CREDIT: Jaladwara

Setelah mereka memperkenalkan diri, kami diberikan buku saku.
Buku saku adalah buku panduan kami, isinya ada dimana kami akan tidur, di homestay mana, bagaimana cara menuju ke tempat ini, cara membuka obrolan dengan bahasa jawa, bahasa jawanya permisi (mau masuk ke rumah), permisi (mau pergi), permisi (numpang lewat kepada yang lebih tua), dan lainnya.

Lalu kakak-kakak fasilitator bilang kepada kami, katanya, “Kan kalian ada di jawa, jadi ya coba pakai bahasa jawa untuk membuka obrolan, permisi, terima kasih, dan sebagainya. Gak papa kok kalo gak bisa full ngomong bahasa jawa. Mereka justru menghargai kita yang mau belajar pakai bahasa jawa.”
Aku langsung bersemangat, karena aku dan keluargaku sering ke purbalingga, dan kalau ke sana, pasti ayahku banyak ngomong bahasa jawa, walaupun kebanyakannya bahasa jawa yang kasar. Tapi berkat sering denger ayahku, aku pasti bisa fasih.

Karena kami sudah dibagi kelompoknya, saatnya kami memutuskan nama per kelompok.
Ini hasilnya:
Marimas Rasa Soto: Adinda, Kaysan, Andro
Rawon Ayam: Donna, Ceca, Zaky
Nasi Uduk: Aku, Fattah, Yudhis

Kami di briefing sebentar, lalu kakak-kakak fasilitator bilang, “Oke, itu aja. Sekarang kalian cari makan, nanti kita ketemu lagi di dusun Maitan ya. Kita cabut dulu.”
Kami berpamitan dengan kakak-kakak, lalu kami ngobrol sebentar sambil memutuskan makan dimana. Tadinya kami pikir kami bawa saja tasnya sambil makan, tetapi setelah berdiskusi, akan ada yang menjaga dan yang makan. Yudhis, Andro, dan Zaky hom-pim-pa untuk memutuskan siapa yang apa. Zaky beda sendiri, maka kelompok Zaky akan menjaga tas kelompok Yudhis, dan kelompok Andro.

Jam 7:59 pagi WIB.
Kelompok Yudhis dan Andro dapat 15-20 menit untuk makan.
Kami makan di sebuah angkringan, masih dekat dengan St. Lempuyangan.
Karena aku tidak lapar, aku beli 1 gorengan dan Aqua.

Kami selesai makan, aku membayar. Harga Aqua-nya 4000, harga gorengannya 500 rupiah.
Harga Aquanya agak mahal, tapi mau bagaimana, aku sudah haus, dan aku tidak enak kalau sudah bertanya harganya tapi tidak beli.

Kelompok Yudhis dan Andro bergantian dengan kelompoknya Zaky. Kelompoknya Zaky juga punya 15-20 menit.
Sementara Zaky, Donna dan Ceca makan, sisanya menjaga tas dan menulis logbook.

Kelompok Zaky selesai makan. Kami mengambil tas kami dan memulai perjalanan!

Dari St. Lempuyangan, kami jalan ke halte TransJogja SMA 5. Perjalanannya lumayan jauh, namun aku kuat karenasering latihan wushu. Saat sedang jalan, sebenarnya badanku rada kurang enak. Memang, saat berangkat ke Jogja aku sedang sakit.
Tapi, aku tidak mau merepotkan teman-temanku.. Lagipula, aku masih kuat, jadi kuteruskan!

Kami sampai di halte SMA 5. Karena TransJogja itu sama saja dengan TransJakarta, masuk haltenya juga harus pakai kartu flazz, indomaret card, dan sebagainya. Karena Zaky, Adinda, dan Andro tidak bawa kartu, mereka meminjam kartunya Yudhis. Untungnya, ayahku sudah mempersiapkan kartu untukku.
Kami naik bus nomor 2A ke Terminal Jombor. Saat kami naik, kami berdiri. Tapi yang mengejutkan, bahwa supirnya ugal-ugalan sekali! Kami semua (kecuali Kaysan dan Adinda karena mereka dapat duduk) harus menggunakan seluruh otot kami agar bisa bertahan berdiri XD

Lalu kami transit di Malioboro, naik bus nomor 3A. Saat sedang naik bus, ternyata semua anak-anak Eksplorasi kecuali aku dan Adinda sudah kecanduan main Snake, sebuah game di hp jadul mereka. Selama perjalanan, Zaky, Kaysan dan Yudhis bermain Snake terus, sampai mereka “pamer-pamer” nilai!

Jam 10:00 pagi WIB.
Saat kami sampai Terminal Jombor, kami langsung ditawari bapak-bapak, sekitar 3-4 bapak, untuk naik bus ke Terminal Borobudur. Kami pilih satu bus, dan langsung jalan. Aku duduk dekat jendela, dan sampingku adalah Andro.
Selama perjalanan, aku diam saja, walaupun sebenarnya ingin ikut ngobrol dengan Andro dan Zaky, namun aku takut malah jadi aneh, soalnya mereka gak jelas ngomongin apa… *kayaknya ngomongin hal cowok gitu deh :/
Aku ternyata sempat tertidur di bus XD, dan dibangunkan oleh Yudhis, yang duduknya dibelakangku 😀

Kami akhirnya sampai di Terminal Borobudur. Saat kami turun dari bus, kami langsung di tawari 5 bapak-bapak untuk mengantar kami ke Borobudur! Yudhis menolak bapak-bapak itu, dan mengajak kami makan dulu.

Jam 11:24 siang WIB.
Kami makan di sebuah warung prasmanan. Kami mengobrol dan bercanda dulu sebelum akhirnya Yudhis mengambil makan. Setelah Yudhis mengambil makan, yang lain menyusul.
Kami semua makan, kecuali Zaky. Zaky tidak lapar. Aku makan mie goreng ½  porsi, karena aku sebenarnya masih tidak begitu lapar. Namun karena aku tahu tidak banyak cemilan, aku makan saja dulu. Aku membeli satu botol air juga.

Setelah kami makan, Yudhis menyuruh bagi yang sholat silahkan sholat dulu. Ceca, Fattah, Zaky, dan Adinda sholat. Aku, Yudhis, Donna, Kaysan dan Andro tidak sholat.
Setelah mereka selesai sholat, kami bayar makan kami masing-masing.

Saat kami sedang beberes tas kami, seorang bapak-bapak menawarkan untuk naik andongnya ke Borobudur.
(Andong = Delman)
Yudhis memberitahu bahwa kami akan ke Maitan, dan saat ditanya harganya berapa, bapak itu menjawab 100 ribu! Kami semua terkejut! Mahal sekali!
Yudhis menawar harga 40rb, menurut buku saku, dan akhirnya Yudhis dan Kaysan menolak bapak itu dan memilih untuk jalan kaki.
“Jauh banget lho!” bapak itu meyakinkan kami bahwa itu jauh sekali. Namun Yudhis dan Kaysan tetap menolak. Pada saat kami mau meninggalkan bapak itu, bapak itu akhirnya setuju untuk memberikan harga 40 per andong.

Kami menyewa 2 andong. Salah satu andong berisi 5 orang, yang satunya lagi 4 orang.
Aku duduk di andong yang isinya 4 orang, dan aku duduk di depan, dekat pak kusir.

Selama perjalanan ke Maitan, aku melihat banyak anak-anak yang terkagum-kagum oleh andong yang kami naiki. Tepatnya sih, mereka terkagum-kagum oleh kudanya 😀
Saat hampir di dusun Maitan, aku melihat ada ibu-ibu menyapaku. Aku sapa balik, dan ibu itu senang sekali 🙂
Mungkin hal seperti ini sepele sekali, namun dapat menyapa orang tanpa di “cuekin” atau di “jutekin” itu rasanya enak sekali! Beda jauh sekali dengan di kota, yang kalau kita menyapa orang itu tidak membalas balik, dan akhirnya jadi awkward/aneh.
Aku pun dapat merasakan kebahagiaan sang ibu bahwa ia telah menyapa anak kota. ^-^   

Jam 12:20 siang WIB.
Kami sampai di dusun Maitan. Saat kami turun, sebenarnya aku agak malu karena warga sekitar langsung keluar dari rumahnya dan melihat kami. Setelah kami turun, Yudhis membayar andong yang aku, dia, Fattah dan Donna naiki.
Karena dusun Maitan dekat dengan Hotel Plataran Borobudur, saat kami sedang wawancara beberapa narasumber mengira kami tidur di Hotel Plataran 😀
Hotel Plataran-nya saat siang biasa saja, tapi saat malam bagus banget dari luar :O

“Ayo guys, cari homestay masing-masing yak.” Kata Yudhis.

Menurut buku saku, ini anak-anak yang tidur di homestay tertentu:
Andro dan Kaysan: Srikandi
Ceca dan Zaky: Dewi Shinta
Yudhis dan Fattah: Puntadewa (baca: Puntodewo)
Adinda, Donna dan Yla: Antasena (baca: Antoseno)

Aku Adinda, dan Donna berjalan seiringan dengan Ceca dan Zaky, mencari homestay kami.
Saat kami celingak-celinguk mencari jalan,seorang ibu-ibu yang sedang berdiri di depan sebuah rumah, bertanya kepada kami.

“Nyari apa dek?” Ia bertanya dengan ramah.
“Nyari homestay, bu” kataku sambil nyengir.
“Ohh… kalo homestay, ke arah sana udah nggak ada.. adanya ke arah sana..” kata ibu itu seraya memberi arah.
“Oh gitu.. kalo homestay Antasena, ini ya bu?” Tanyaku. Aku sempat melihat sebuah tanda “ANTASENA” di rumah belakang ibu itu.
“Iyaa.. ini homestay Antasena..” ibu itu menjawab pertanyaanku.
“Ohh… kita yang mau nginep, bu..” Jawabku seraya nyengir lagi.
“Oh gituu.. mari mari, silahkan masuk..” Ibu itu mengajak kami masuk.

“Lu ke arah sana, yak.” Kataku kepada Ceca dan Zaky.
“Sip.” jawab mereka.

“Kulo nuwun…” Kami bertiga mempraktekkan apa yang ada di buku saku.
Kulo nuwun, artinya permisi jika ingin masuk ke rumah.

Aku melihat sekeliling rumah itu. Cukup besar, ruang tamunya besar, sofanya juga. Sofanya cukup untuk 5-6 orang, di tambah lagi ada beberapa kursi, kira-kira 4-5 kursi, berjejer. Kaca jendelanya besar-besar, kami bisa melihat kandang bebek yang ada di samping rumah.
Pemilik homestay-nya adalah Pak Kambali dan Bu Roh.

“Mari, ini kamarnya.. silahkan beberes dulu..” Bu Roh mengantarkan kami ke kamar yang kami akan tiduri.
“Makasih bu..” Kami bertiga berterima kasih.
Kami beberes, lalu menulis logbook.

“Ah, bosen nih. Ke rumahnya Andro n Kaysan yuk.” Kataku setelah selesai menulis logbook.
“Yuk.” kata Adinda. Donna tidak mau ikut, ia ingin tetap di rumah.

Aku dan Adinda mencari ibu tuan rumah, lalu berpamitan.
“Bu, kita berdua mau ke rumah temen. Pareng, bu…”
“Oh nggih nggih…” Jawab bu Roh.
Pareng, artinya permisi mau pergi.

Aku dan Adinda berjalan menuju rumahnya Andro dan Kaysan, dan kami sampai di depan pintu rumahnya.
“Kulo nuwun…” Kataku dan Adinda.

“Kenapa dek? Nyari apa?” Tanya seorang ibu dengan ramah.
“Mau ketemu temen, bu..” Jawabku.
“Ohh.. itu, masuk aja, trus nanti ke kanan ada pintu. Nah, ketok aja..”
Kata ibu itu sambil membuka pintu agar kami masuk
“Matur nuwun bu…” aku berterima kasih.

Tok tok tok tok
Tok tok tok tok
Tok tok tok tok
“Ndro, Kay, bukaa” kataku sambil agak berteriak.
“Apaan?” Kata Andro dan Kaysan sambil membuka pintu.
“Ngumpul dimana n jam berapa?” Tanyaku.
“Mm… di Gatotkaca jam 1:30!” Jawab Kaysan
Kami berbincang-bincang sebentar, lalu aku dan Adinda balik ke homestay kami.

Saat kami masuk ke kamar, Donna masih menulis jurnalnya.
“Kita kumpul jam 1:30, jadi masih ada sejam kurang kira-kira.” Kataku sambil menebak-nebak jam.
“Oke.” Kata Donna dan Adinda.
Kami bersantai-santai, menulis jurnal, lalu aku mandi.
(bagian ini kalau yang baca cowok skip aja :P)
Saat aku mandi, ternyata aku mengalami mens pertamaku!
Perasaanku agak kaget, senang, tapi agak panik juga dan bingung, karena mens pertamaku tanpa ibu! Untungnya aku sudah diberi beberapa pelajaran oleh ibu sebelum berangkat, jadi tidak begitu kaget dan panik.

Setelah aku mandi, aku bilang kepada Donna dan Adinda,
“Eh, jalan-jalan yuk.” Aku mengajak mereka.
“Mm.. boleh. Yuk.” Adinda setuju. Donna juga setuju.

Saat kami keluar dari rumah, dan berjalan kira-kira 20 meter-an, kami melihat ada Yudhis, Fattah, kak Inu, kak Melly, dan kak Kukuh sedang bersantai di teras sebuah rumah.
Kami menghampiri mereka, lalu kak Melly berkata,
“Wah, kalian hampir aja terlambat!” sambil agak meledek.
“Ha? Masa sih? Hampir terlambat ya?” Kataku sambil terkejut.
“Iya. Ni aja udah jam 2 kurang seperempat. Untung baru Yudhis ama Fattah.” Kak Melly menjawab.
“Emang gak ada jam gitu di homestay kalian?” Tanya Yudhis.
“Gak ada.. kita juga gak ada yang bawa jam..” kataku agak malu karena hampir terlambat.
“Berarti kayaknya cewek-cewek perlu dikasih hp ya.” kata kak Inu sambil agak berbisik ke kak Melly dan kak Kukuh.
“Iya, nanti coba di diskusiin aja.” Jawab kak Kukuh.

Aku, Adinda, dan Donna sadar bahwa kami tidak membawa jurnal, logbook, serta alat tulis. Aku meminta ijin kepada kakak-kakak Jaladwara untuk mengambil barang-barang kami.
Kami bertiga berlari menuju rumah homestay kami. Untungnya rumah kami tidak terlalu jauh, maka hanya butuh tidak lebih dari 5 menit untuk mengambil tas, alat tulis, jurnal, dan logbook kami, lalu balik lagi.

Saat kami sampai ke Gatotkaca lagi, Andro dan Kaysan sudah datang.
Kami lalu duduk dan bercanda-canda sambil menunggu Ceca dan Zaky.

Saat sedang bercanda-canda, kak Melly tiba-tiba berkata kepada kami, “Ini maksudnya apa? “Aku dan Ceca sedang mandi.” Maksudnya Zaky mandi bareng Ceca, gitu?” sambil agak tertawa membaca SMS dari Zaky.
Kami semua tertawa keras.
“Wah, Ceca ama Zaky lama nih. Nanti kalian tentukan hukumannya, ya.” Kata kak Kukuh sambil tersenyum.
Kami berpikir, apa hukuman yang pas untuk diberikan kepada Zaky dan Ceca.
Akhirnya semua anak-anak setuju untuk memberikan hukuman joget kepada Zaky dan Ceca.

Tak lama kemudian, Zaky sampai sambil berlari kecil dengan Ceca di belakangnya.
“Zak, telat lu! Joget loh!” kata Kaysan sambil terkekeh.
“Lah! Gara-gara Ceca, tuh!” Zaky membela dirinya.
“Ya udah, masuk dulu aja..” kata kak Kukuh, mengajak kami untuk masuk ke dalam rumah.

15400358_1077151632393586_4569649515415448850_n
Menertawai Zaky dan Ceca karena telat. CREDIT: Jaladwara

Kcami semua masuk sambil berkata, “Kulo nuwun…” lalu duduk.
Aku duduk di sebuah sofa yang berisi 4 anak. Dari paling kiri, Donna, aku, Fattah lalu Ceca. Agak berdempetan, karena tidak ada tempat lagi untuk Ceca kecuali sofa yang aku duduki.

IMG_5828.JPG
Berdiskusi di Gatotkaca. CREDIT: Yudhistira G.S.

Setelah kami semua duduk, kak Melly mengingatkan hukumannya Zaky dan Ceca.
“Hayoo.. gimana, hukumannya?” Katanya meledek.
“Lah?” Jawab Zaky sambil agak kebingungan tetapi tetap menolak untuk joget.
“Hahahhah..” semua anak-anak tertawa. Bahkan kakak-kakaknya pun ikut tertawa.

Jam 1:30 siang WIB.
Kami mulai berdiskusi. Dimulai dari apakah ada kesulitan saat naik angkutan umum, berapa harganya, dan sebagainya.
Selesai diskusi, kakak-kakak Jaladwara menyuruh kami untuk meng’eksplorasi’ dusun Maitan siang sampai sore ini. Make someone less stranger. Itu misi kami sore ini. Buatlah seseorang menjadi tidak asing.  
“Jalannya per kelompok. Per kelompok gak boleh barengan ya!” Kata kak Inu.
“Kumpul disini lagi jam 5.” Kata kak Melly.

“Ayo, Yla, Fattah, kemana nih?” Kata Yudhis, menyuruh kami untuk memimpin.
Aku bingung sekali. Kami akhirnya jalan keliling dusun Maitan selama 30 menit, dan kami tidak bisa “make someone less stranger’’. Alasannya karena Yudhis sempat berpencar dengan aku dan Fattah, dan karena aku dan Fattah terlalu malu untuk berinteraksi.

IMG_5834.JPG
Berjalan-jalan dekat Plataran. CREDIT: Yudhistira G.S.

Sebenarnya aku agak iri dengan kelompok lain. Kelompok lain seru, karena ada Andro dan Kaysan, di Marimas Rasa Soto, dan Zaky di Rawon Ayam. Sementara kelompokku serius banget… -_-’’

Akhirnya Yudhis memberi kami waktu istirahat. Kami dapat 20 menit untuk istirahat di homestay masing-masing. Aku diberi hp untuk mengetahui jam.
Aku sempat tidur selama 10-15 menit, sisa 5 menitnya aku santai-santai.
Aku lihat jam, ternyata sudah 20 menit. Aku mengambil tasku lagi, dan jalan ke Gatotkaca.

Saat aku sampai di Gatotkaca, Yudhis dan Fattah sedang mengobrol dengan kak Melly dan kak Inu.
“Itu, di kolongan, deket Plataran lagi pada nerbangin merpati tuh.” Kata kak Melly.

Kami ke kolongan, dan melihat sekitar 6-7 orang yang isinya bapak-bapak dan mas-mas sedang melatih mepatinya.
Kolongan adalah sebuah rintangan agar sang merpati dapat turun melewati atasnya kolongan. Sang merpati di terbangkan dari 1-2 km, lalu agar merpatinya turun, ia ditarik perhatiannya oleh pasangannya. Pasangannya dipegang oleh yang punya.

Setelah beberapa menit menonton para merpati, Yudhis mengajak kami balik ke Gatotkaca.
Ternyata kelompokku yang pertama balik, lalu Rawon Ayam, dan terakhir Marimas Rasa Soto. “Tuh, main bola gih! Bareng anak-anak!” Suruh kak Melly.
“Mm.. Ayok lah!” Kataku sambil mengikat rambut.
Aku ikutan duluan supaya yang lain mau ikutan juga, dan aku benar. Setelah aku ikut, tak lama kemudian Fattah dan Kaysan ikut, lalu Ceca dan Yudhis, lalu Zaky, Andro dan Donna. Adinda tidak ikut main bola karena dia masih terlalu malu. Saat sudah ramai, aku keluar.
Ternyata bermain dengan anak-anak desa itu seru! Beda dengan anak-anak kota, yang bisa seenaknya saja meninggalkan anak yang baru ikutan.
Pertamanya aku kira bermain dengan anak desa akan kurang lebih sama sombongnya dengan anak kota, tetapi ternyata tidak!

dsc_0123
Bermain bersama anak-anak dusun.  CREDIT: Jaladwara

PRIIITTTT!

Kak Kukuh membunyikan peluit untuk menandakan waktu bermain bola selesai.
Sudah maghrib juga, waktunya anak-anak itu pulang.
“Sekarang kalian pulang, bersih-bersih, dan makan malam di homestay masing-masing.” Kata kak Melly.
“Ya, nanti kumpul lagi disini jam 7 ya.” Lanjut kak Inu.
Kaysan memberikan hpnya kepada Adinda, lalu aku, Adinda dan Donna pulang ke homestay kami.

Sesampai kami di homestay, Donna langsung mandi, lalu aku bersih-bersih, lalu Adinda mandi, lalu kami mengerjakan logbook bareng.
Saat kami sedang mengerjakan logbook, Bu Roh menyuruh kami untuk makan.
“Ayo, itu makanannya udah siap.. Makan dulu…” Kata Bu Roh.
“Iya, matur nuwun bu..” ucapku, Adinda, dan Donna berbarengan.
Kami makan. Aku mengambil nasi, tahu dan sayur buncis. Aku mengambil sayurnya lumayan banyak, dan pada saat aku coba… pedes banget! Sayang kalau dibuang, namun aku tidak bisa makan.. Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya dalam kotak makanku.
Kami makan sambil nonton TV bersama Bu Roh.
Setelah makan, aku lihat jam. Wah, sudah jam 7 lewat 10 menit! Kami terlambat lagi!
Aku menyuruh Adinda dan Donna untuk lebih cepat dan bersiap-siap, lalu kami pamit dengan Bu Roh.

Jam 7:14 malam WIB.
Kami sampai di Gatotkaca, dan disana sudah ada Andro, Kaysan, Yudhis, dan Fattah. Kami tidak telat! Tapi nampaknya Zaky dan Ceca telat lagi..
Kami menunggu Zaky dan Ceca selama 20 menit, lalu kak Inu bilang, “Ceca dan Zaky kali ini dikasih hukuman yang beneran ya. Kalian tentukan.”
Kami ingin melihat Ceca joget dan Zaky stand-up comedy. Itulah hukumannya.
Kami menunggu 5 menit lagi, dan jika mereka tidak datang 5 menit lagi, kami akan mulai diskusi tanpa mereka.
5 menit sudah berlalu dan ternyata mereka tidak datang. Kami akhirnya mulai menulis logbook dan diskusi tanpa mereka. Di tengah-tengah diskusi, Ceca dan Zaky datang.

img_20161213_193010
Menulis logbook harian kami. CREDIT: Jaladwara

Selesai diskusi, waktunya diskusi per kelompok. Kelompokku diskusi bersama kak Melly mengenai “Makanan Khas Maitan”.
Selesai diskusi per kelompok, kami disuruh simulasi wawancara dengan kak Kukuh sebagai narasumber.

Karena Zaky dan Ceca telat, kelompok Rawon Ayam simulasi duluan.
Kak Kukuh berperan menjadi Peternak Bebek.
Setelah mereka selesai, kami disuruh memberi kritik dan nilai.
Selanjutnya adalah kelompokku, kelompok Nasi Uduk.
Kak Kukuh sekarang berperan sebagai orang yang melatih merpati di kolongan.

img_20161213_205104
Diskusi sebentar sebelum memulai simulasi. CREDIT: Jaladwara

Kelompok kami selesai simulasi wawancara, lalu mereka memberikan nilai dan kritik.
Kak Kukuh juga memberi nasihat kepada kami, katanya, “Yudhis tadi nanya-nya kecepetan. Kalo misalnya si bapak masih mau nyeritain lagi, gimana? Jadi nanya-nya agak di pelanin.”
Yang terakhir adalah kelompok Marimas Rasa Soto.
Kak Kukuh sekarang berperan jadi tukang kayu.
Marimas Rasa Soto selesai simulasi, lalu kami memberi kritik dan nilai.

Setelah semua selesai simulasi, kak Melly bertanya apakah kami mau ditelpon atau tidak.
Pertamanya semua tidak mau ditelpon, tapi lama-lama kami semua mau ditelpon kecuali Yudhis, Kaysan, dan Adinda. Masing-masing dapat 5 menit untuk mengobrol.
Yang pertama ditelpon adalah Donna, lalu Andro, lalu Yudhis. Yudhis ternyata ditelpon ibunya, jadi mau tidak mau dia menjawab.
Setelah Yudhis, Ceca ditelpon, lalu aku. Saat aku menelepon, aku keluar rumah, menyapa ibuku, lalu mengobrol dengan Vyel.
Vyel: Hai yla..
Aku: Hai Vyeeelll! Gimana? Masih anget?
Kemarin sebelum aku berangkat Eksplorasi, keadaan vyel di Bangka sedang sakit. Aku khawatir, karena besok ia harus tanding.
Vyel: Masih.. Agak lemes sih…
Suaranya lesu sekali. Aku ingin berada disana, membantunya. Namun pergi ke Bangka itu mahal sekali, makanya aku pergi Eksplorasi saja.
Selesai berbicara dengan Vyel, aku berbicara dengan ibuku.

Setelah selesai menelpon, aku masuk ke dalam rumah. Setelah aku ditelpon, Zaky ditelpon oleh kakaknya. Lalu Zaky selesai menelepon. Saat Zaky masuk ke dalam rumah, kak Melly berkata, “Yak, kita diskusinya udah slese, kalian pulang ke rumah, tidur. Besok pagi kita liat pak Muhadjir nderes Nira. Kumpul jam 6 disini.” Kaysan memberikan hpnya kepada Adinda, lalu aku, Adinda, dan Donna pulang.
Sesampai di homestay, kami bersih-bersih, lalu tidur.

Perasaanku hari ini senang, karena sampai di Maitan, tapi agak kesal, karena kelompokku tidak seseru yang lain -_-
Laporan keuangan: 
Pengeluaran:
Aqua = Rp. 4,000
Gorengan = Rp. 500
Bis = Rp. 20,000
Mie goreng = Rp. 8,000
Le Minerale = Rp. 4,000

Total pengeluaran: Rp. 36,500

Sisa saldo: Rp. 538,500

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s