EKSPLORASI: Day 3.

Rabu, 14 Desember 2016. 

Aku tiba-tiba dibangunkan Adinda, dan saat aku dalam posisi duduk, aku agak bingung, karena ada Zaky dan Ceca di depan pintu kamar kami yang sudah terbuka! Sepertinya Zaky dan Ceca membangunkan kami, lalu Adinda bangun, dan membangunkan aku dan Donna.
Aku langsung buru-buru siap-siap, meminum 2-3 teguk air, lalu langsung keluar rumah.
“Nggak cuci muka dulu?” Tanya Zaky. “Nggak, gapapa.” Jawabku. Aku dan Adinda tidak cuci muka karena takut teman-teman yang lain menunggu kelamaan.

Jam 6:00 pagi WIB.
Aku, Adinda, dan Donna berjalan ke Gatotkaca bersama Zaky dan Ceca.

Saat kami datang, semuanya sudah datang. Yudhis bertanya kepada kak Melly dimana tempat untuk cuci muka. Ternyata bukan cuma aku dan Adinda yang tidak cuci muka! Andro, Kaysan, Yudhis, Fattah juga tidak cuci muka. “Buru-buru tadi, kak!” Kata Yudhis. Kami semua selain Zaky dan Ceca akhirnya cuci muka di Gatotkaca 😀

Setelah semua sudah cuci muka, kakak-kakak fasilitator menyuruh kami untuk mencari pak Muhadjir per kelompok. Kelompok Rawon Ayam duluan mencari pak Muhadjir, lalu Marimas, dan terakhir Nasi Uduk.

Kami bertemu dengan pak Muhadjir. Pak Muhadjir ini nderes Nira. Nira adalah getah di bagian batangnya pohon kelapa. Aku sempat mencoba air Nira-nya, dan airnya enak sekali! Manis! Pak Muhadjir ini satu-satunya di dusun Maitan yang bisa nderes Nira, dan pak Muhadjir memanjat pohonnya tanpa pengaman atau tali! Jadi kalau ada kecelakaan (amit-amit), tidak ada yang bisa menggantikannya..

Harusnya pak Muhadjir menurunkan ilmunya kepada anaknya, namun anak-anak jaman sekarang terlalu sibuk dengan sekolah, menurut pak Muhadjir.

dsc_0304
Pak Muhadjir sedang menjelaskan tentang Nira. CREDIT: Jaladwara
dsc_0297
Pak Muhadjir memanjat tanpa pengaman. CREDIT: Jaladwara

Aku tadinya sempat heran bagaimana kaki itu bisa bertahan di pohonnya, namun setelah aku perhatikan pohonnya, ada tempat pijakannya, makanya pak Muhadjir dapat bertahan.

Pohon milik pak Muhadjir berumur 10 tahun, dan Niranya lebih banyak kalau musim kemarau.

Kami lalu bertemu dengan ibu Kusnia. Ibu Kusnia adalah istrinya pak Muhadjir. Ibu Kusnia ini juga satu-satunya yang membuat gula jawa di dusun Maitan. Gula jawanya dibuat menggunakan Nira yang diambil pak Muhadjir, dan rasanya enaaaakkkkkk sekallii! Aku jarang mencoba gula jawa, namun gula jawa ini adalah gula jawa yang paling enak yang pernah aku coba! Sejak ada pak Muhadjir, ibu Kusnia mulai belajar memasak gula jawa.
1 kg gula jawa dijual kira-kira Rp 15,000- Rp 16,000.

Jam 7:00 pagi WIB.

Setelah kami melihat pak Muhadjir, kami pulang ke rumah masing-masing, mandi, dan makan pagi. Aku makan nasi dan ayam goreng. Ayam gorengnya enak! Tapi tak seenak buatan ibu dan eyangku 🙂 

Setelah makan, kami ke Gatotkaca lagi. Saat kami kumpul, kami disuruh untuk mencari home industry di Maitan. Seperti kemarin, setiap kelompok harus mencari jalannya masing-masing. Tidak boleh bersama-sama.

Kelompokku, kelompok Nasi Uduk ke home industry peyek. Tadinya kami ingin ke home industry cripping, tapi saat kami datang, sudah ada kelompok lain. Jadilah kami ke home industry peyek dulu. 

Di home industry peyek, kami bertemu dengan ibu Kristiati yang sedang menggoreng peyek-peyek itu. Ibu Kristiati menjual 3 macam jenis peyek. Peyek kacang, peyek tempe, dan peyek bayam. Peyek tempe dijual dengan harga 30rb/kg rupiah, dan rontokan peyek-peyek itu dijual juga, dengan harga 6rb/kg.  

Untuk tempe, modal sehari ibu Kristiati adalah 100 ribu rupiah. Beliau beli bahan-bahannya di Pasar Borobudur. Ibu Kristiati membuat peyek-peyek itu tergantung pesanan, namun di pasar ada yang langganan, makanya ibu itu setiap hari membuat peyek. Dalam sehari ibu Kristiati dapat membuat 20 kg peyek.  

Setelah kami wawancara, untuk membantu penghasilan ibu Kristiati, kami membeli beberapa peyek tempenya, lalu ditaruh di kotak makannya Yudhis.

Saat jalan-jalan, kami melihat sebuah kandang kecil untuk sapi. Saat kami sedang menghampiri kandang itu, seorang bapak-bapak bertanya kami mau kemana. Kami pun bertanya-tanya dengan bapak itu.

Namanya pak Rumiyadi, beliau punya ternak sapi. Ternyata, kandang yang kami lihat itu adalah milik pak Rumiyadi. Pak Rumiyadi juga ternyata punya home industry mebel yang kami sempat lewati. Pak Rumiyadi memulai peternakan sapi itu dari tahun 2006, dan home industry mebel di tahun 2002.

DSC_0045.jpg
Kelompokku bersama Pak Rumiyadi di kandang sapinya. CREDIT: Jaladwara

Setelah kami mewawancarai pak Rumiyadi, kami melihat-lihat home industry mebel-nya pak Rumiyadi, dan pada saat kami melihat home industry itu, kami melihat sebuah kayu unik. Kayunya bewarna kuning, dan itu bukan karena pewarna, aslinya sudah seperti itu. Namanya kayu nangka kuning.

Setelah kami melihat home industry mebel, kami lanjut ingin ke home industry tahu, namun ternyata itu jauh dari dusun Maitan. Kami akhirnya istirahat di Gatotkaca dulu karena aku mulai tidak enak badan lagi. Saat kami selesai beristirahat, kami ke home industry criping lagi. Tapi ada kelompok lain disana… -_-

Sebelumnya di Gatotkaca kak Kukuh menyarankan untuk melihat ke home industry tempe. Akhirnya kami ke home industry tempe. Di home industry tempe kami mencoba membungkus tempe.

IMG_20161214_101722.jpg
Mencoba membungkus tempe. CREDIT: Jaladwara

Saat kami sedang mewawancara, ternyata kak Kukuh datang. Kami terbantu kak Kukuh pada saat kami tidak tahu mau bertanya apa lagi, karena kak Kukuh langsung mengobrol dengan sang ibu 😀

Setelah kami mencoba untuk membungkus tempe, kak Kukuh mengajak kami untuk kembali ke Gatotkaca.

Setelah semua kelompok kumpul di Gatotkaca, kami semua diberitahu bahwa kami akan bertemu dengan pak Naim. Kami semua lalu jalan bersama menemui pak Naim.

Ternyata, pak Naim adalah pemilik home industry cripping!

Jam 11:30 siang WIB.

Kami pun diajak ke kebunnya, dan kami menyabut singkongnya. Pak Naim mengajarkan kami cara menyabutnya. Cara menyabutnya adalah dengan dua tangan di belakang, lalu ditarik.

DSC_0090.jpg
Kami sedang berjalan dengan pak Naim ke kebun singkong. CREDIT: Jaladwara

Saat aku sedang mencoba menarik salah satu pohon singkongnya, tanganku kram. :/

DSC_0138.jpg
Donna (baju pink) sedang menarik singkong dan aku (baju biru) sedang meregangkan tanganku karena kram. CREDIT: Jaladwara

Saat kami sedang menarik pohon singkongnya, di tanah terlihat ada cacing. Aku tadinya biasa saja, Donna juga, namun pada saat Ceca mengambilnya dan menyodori ke arahku aku langsung ketakutan-jijik :S. Aku mundur dari Ceca, eh Ceca tetap menyodoriku :/

Akhirnya aku berlari menjauhi mereka, Donna ikut berlari bersamaku. Mereka menertawaiku karena aku atlit wushu tapi takut sama cacing :’)

IMG_20161214_105950.jpg
Hasil kerja kami kepada kebunnya pak Naim… :/ CREDIT: Jaladwara

Setelah kami selesai mencabut singkong-singkongnya, kami ke homestay masing-masing untuk bersih-bersih/mandi. “Jangan lupa, kasih tau tuan rumah kalo makan siangnya diluar ya.” Kata kak Melly sebelum kami pulang ke homestay. Aku memberitahu ibu Roh bahwa kami tidak makan siang di rumah. Kami hanya sebentar di homestay, lalu langsung ke Gatotkaca lagi.

Sampai di Gatotkaca, semua kelompok berkumpul. Setelah sudah dipastikan semuanya ada, kami disuruh untuk mencari rumahnya pak Pudin. Aku sempat salah masuk rumah, karena aku dengarnya pak Budi, bukan pak Pudin 😛

Maluuuuuu sekalii rasanyaa, dan pada saat lagi meminta maaf kepada ibunya yang punya rumah, beliau malah ngomong panjang lebar pake bahasa jawa (._.)

Kami sampai di rumahnya pak Pudin. Ternyata rumahnya tidak terlalu jauh dari Gatotkaca.

Di dalam rumahnya, ternyata ada sebuah rak berisi banyak sekali buku! Seperti perpustakaan kecil! Aku sangat senang! Aku ingin langsung membaca buku-buku itu, namun kak Melly menyuruh kami duduk dulu. Kami menyalami seorang ibu-ibu, yang ternyata istrinya pak Pudin.

Saat ibu itu menaruh lauk pauk serta nasi dan lainnya, aku baru sadar, ternyata kami akan makan siang di rumah ini, rumahnya pak Pudin, bersama kakak-kakak! 😀

Kami doa makan dulu, lalu kami makan. Aku makan nasi dan ayam, dan sayur (lupa namanya 😛 ). Rasanya enak! Rasa makanan rumahan, enak!

IMG_6296.jpg
Lauk kami siang ini. CREDIT: Jaladwara
IMG_20161214_120139_HDR.jpg
Berdoa sesuai agama masing-masing sebelum makan 🙂  CREDIT: Jaladwara

Setelah makan, kami diskusi. Sebelum diskusi kami bercanda-canda dulu, Andro dan Zaky sempat adu push-up 😀

Aku ingin ikutan adu push-up, namun karena kondisi badan tidak mendukung.. 😥

IMG_20161214_123527_HDR.jpg
Adu push-up 😀 CREDIT: Jaladwara

Kami pun diskusi, tentang home industry yang kami kunjungi tadi pagi, dan setiap kelompok harus bercerita tentang home industry yang mereka kunjungi.

IMG_6314.jpg
Berdiskusi. CREDIT: Jaladwara

Kelompok pertama yang bercerita adalah kelompok Rawon Ayam. Aku kurang begitu ingat apa yang mereka kunjungi dan cerita, namun yang kuingat adalah mereka ke home industry cripping, dan ke home industry peyek.

IMG_6306.jpg
Kelompok Rawon Ayam bercerita. CREDIT: Jaladwara

Setelah kelompok Rawon Ayam, kelompok Nasi Uduk bercerita. Kali ini aku yang banyak bercerita karena aku disuruh Yudhis. Aku bercerita ke home industry apa saja dan apa yang menarik. Menurutku, yang menarik adalah kayu nangka kuning, karena warnanya kuning. 

IMG_6313.jpg
Aku sedang bercerita mengenai kami ke home industry apa saja. CREDIT: Jaladwara

Setelah kelompok Nasi Uduk bercerita, kelompok Marimas Rasa Soto bercerita.

IMG_6310.jpg
Giliran kelompok Marimas Rasa Soto. CREDIT: Jaladwara

Setelah kami diskusi, kakak-kakak fasilitator menyuruh kami ke rumahnya pak Dodo. Kami akan mengambil sepeda! Aku sangat senang, karena sudah lama sejak terakhir kali aku bersepeda, jadi aku sangat bersemangat dan senang!

Kami ke rumahnya pak Dodo diantar anaknya pak Pudin. Jarak dari rumahnya pak Pudin ke rumahnya pak Dodo tidak terlalu jauh. Mungkin jaraknya tak sampai 1km.

Jam 2:00 siang WIB.

Kami sampai di rumahnya pak Dodo. Kami mengambil sepeda masing-masing. Saat aku dapat sepeda lipat, aku agak kaget, karena bersepeda menggunakan sepeda lipat itu susah.. Untungnya, saat aku sedang kaget, sang ibu yang memberi sepeda itu menawarkan sepeda kumbang. Aku sangat senang, keranjang di sepeda kumbang itu membantuku sekali, karena tasku itu tas sepatu, dan tas sepatu itu kan pegangannya kecil, aku susah memegangnya.  

Ternyata, kami mengambil sepeda karena akan ke Candi Borobudur! Kejutan yang menarik!

Setelah kak Melly dan kak Inu selesai memberi arah untuk kami ke Candi Borobudur, aku disuruh untuk memimpin pemanasan. Mungkin karena aku atlit, kakak-kakak fasilitator percaya bahwa aku tahu segala macam pemanasan, makanya aku disuruh untuk memimpin. 😀 

IMG_6337.jpg
Pemanasan sebelum kami ke Candi Borobudur.

Kami selesai pemanasan, lalu kami jalan bersama.

Saat sedang jalan, tiba-tiba Yudhis dan Zaky menghilang. Sepertinya ketinggalan, pikir kami semua. Kami pun menunggu. Namun, lama sekali ketinggalannya. Akhirnya Kaysan dan Ceca menghampiri mereka, sementara Andro menjaga para cewek.

Lamaaa sekali kami menunggu sebelum akhirnya Yudhis dan Zaky bertemu kami. Ternyata kami lama menunggu karena rantainya sepeda Yudhis copot, dan mereka balik bertemu kakak-kakak fasilitator dulu.

Setelah semua sudah beres, kami jalan lagi. Kami juga sempat berhenti di sebuah tempat pompa ban, karena beberapa sepeda kami bannya kempes.

Setelah kami mengisi angin ban kami, kami lanjut jalan. Jalannya cukup jauh, namun untungnya aku tidak sakit.

Aku sempat sedikit menyesal memilih sepeda kumbang, karena nampaknya sepeda yang lain enak karena dibuat khusus untuk jarak jauh, dan sepeda mereka sepeda gunung. Tetapi saat Zaky dan Ceca bilang “Sepeda lu enak banget tuh,” aku tidak jadi iri. Menurut Zaky dan Ceca, sepedaku enak karena pertama ada keranjangnya. Ceca juga sempat bilang, aku naik sepeda kumbang seperti di film-film 😀

Akhirnya kami sampai di Candi Borobudur. Kami memarkirkan sepeda kami dan mengunci sepedanya berdasarkan kelompok.

Selesai memarkirkan sepeda kami, kami masuk ke dalam area Candi Borobudur. Kami disuruh untuk bertemu kakak-kakak fasilitator di tempat pembelian tiket lokal.

Tadinya anak-anak yang lain bingung kemana jalan untuk ke tempat pembelian tiket, namun karena aku ingat kemana jalannya, aku memimpin.

Kami sampai di tempat pembelian tiket lokal, dan bertemu kakak-kakak. Saat kami datang, Candi Borobudur penuh dan ramai sekali.

Kakak-kakak fasilitator memberi kami pilihan, tetap masuk tapi ramai sekali, bisa-bisa kami tidak akan menikmati Candi-nya, atau kembali ke dusun Maitan, dan mengganti kegiatan ini dengan yang lain.

Beberapa dari kami agak kecewa, karena mereka belum pernah ke Candi Borobudur. Tetapi karena aku sudah 2 kali ke sini, dan menurutku kalau ingin menikmati Candi-nya sebaiknya tidak ramai. Kakak-kakak fasilitator juga menyarankan untuk kembali ke dusun Maitan dan mengganti kegiatan ini dengan yang lain. Yang lain akhirnya setuju untuk kembali ke dusun Maitan.

IMG_5880.JPG
Wefie di tengah-tengah keramaian sebelum kami pergi. CREDIT: Jaladwara

Saat kami hendak pergi, kakak-kakak menyarankan untuk jalan melewati sebuah sawah dekat Candi Borobudur dan melihat pucuk Candi Borobudur.

Kami mengambil sepeda kami dan bayar. Kami jalan, ditemani oleh kakak-kakak fasilitator.

Kami sampai di sebuah sawah ini, dan melihat pucuk Candi Borobudur. Walaupun kecil, terlihat jelas Candi-nya. Kami pun berfoto-foto. Yudhis menawarkan untuk memoto kami. Semua berfoto, kecuali aku, Adinda dan Yudhis. Yudhis karena dia memoto, Adinda dan aku karena terlalu malu.

IMG_5918.JPG
Pucuk Candi Borobudur. CREDIT: Yudhistira G.S.
IMG_6374.jpg
Tingkah laku Zaky dan Andro yang aneh dan kocak. 😀 CREDIT: Jaladwara
IMG_5892.JPG
Wefieee… CREDIT: Yudhistira G.S.

Setelah kami berfoto-foto, kami lanjut jalan lagi.

IMG_6349.jpg
Lanjut!  CREDIT: Jaladwara

Saat sedang dalam perjalanan ke Maitan, kami sempat berpisah dengan kakak-kakak dan sempat nyasar! Kami hampir ke Phuntuk Sethumbu! Tapi, kami akhirnya kembali ke jalan yang benar 😀 

Kami bertemu kakak-kakak fasilitator, dan kakak-kakak fasilitator ternyata sedang melihat seorang ibu di sawah. Karena kebetulan Kaysan dan kelompoknya mencari tahu tentang beras, kak Melly mengusulkan untuk mewawancara ibu itu.

IMG_6395.jpg
Melihat bu Marsinah ndangir. CREDIT: Jaladwara


Ibu itu bernama Marsinah, beliau sedang ndangir sawah. Ndangir itu tanahnya di acak-acak menggunakan sebuah cangkul kecil.
Saat Kaysan sedang mewawancara, ibu Marsinah menawarkan jika kami ingin mencoba ndangir. Pertama Fattah mencoba duluan, lalu aku.

img_5950
Aku mencoba ndangir sawah. CREDIT: Yudhistira G.S.

Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam sawah, dan aku bersyukur, pengalaman pertamaku sama sekali tidak buruk 🙂

Ketika aku sedang ndangir, ibu Marsinah berbasa-basi, “Wah, pinter ya.. Tinggal disini aja ya?” sambil tertawa kecil. Aku pun jadi tertawa. “Enak juga kali ya, sesekali tinggal disini :)” Pikirku.

Setelah aku ndangir, lalu Donna ikutan, Zaky, dan Andro.

Kami selesai mewawancara, pamit kepada ibu Marsinah, lalu melanjutkan perjalanan.

IMG_6423.jpg
Seperti biasa, tingkah laku kami 🙂 CREDIT: Jaladwara

Kami semua sampai di Gatotkaca untuk berdiskusi. Saat sedang memulai diskusi, beberapa anak-anak dusun mengajak Andro bermain bola. “Nggak, nggak ikut ya.” Andro menolak ajakan anak-anak dusun. Nampaknya Andro sudah mulai terkenal 😀

Kami berdiskusi. Di tengah-tengah diskusi, hampir semua anak Eksplorasi teralihkan oleh bunyi-bunyi tendangan bola. Namun kakak-kakak fasilitator memperbolehkan kami untuk memilih. Main bola sekarang, diskusi nanti malam, atau diskusi sekarang, nanti malam hanya menulis logbook bersama. Pertamanya kami ragu-ragu, beberapa dari kami ingin bermain saja. Namun pada saat dihitung berapa yang memilih apa, kebanyakan dari kami ingin diskusi saja, karena kalau diskusi malam, bisa-bisa kami ngantuk.

Pertama kami diskusi bersama, semua anak. Lalu kami diskusi per kelompok. Kali ini, diskusi per kelompoknya di berbeda tempat. Kelompok Nasi Uduk di homestay Srikandi, Marimas Rasa Soto di Gatotkaca, dan Rawon Ayam di homestay Antasena.

Kami diskusi per kelompok, namun kami membicarakan tentang proyek riset pribadi. Yudhis sudah menemukan apa yang akan di riset, sementara aku dan Fattah belum tahu. Kak Melly membantuku dan Fattah mencari tahu apa yang akan di riset.

Setelah kami diskusi, kami pulang ke homestay masing-masing. Aku, Adinda, dan Donna bersih-bersih, lalu menulis logbook sebentar. Malam ini, kami akan makan malam di tempatnya pak Pudin lagi.

Saat aku, Adinda dan Donna sedang menulis logbook, tiba-tiba kami mendengar seseorang. Ternyata itu Yudhis dan Fattah. Mereka datang untuk menjemput kami, para cewek. Kami beberes, mengambil sepeda kami masing-masing, dan langsung jalan.

Saat kami sedang jalan, Yudhis hampir jatuh karena sepedanya jatuh ke dalam suatu lobang. Untungnya tidak terlalu dalam, tapi karena gelap kami tidak terlalu bisa melihat jalan, dan itu agak mengerikan.

Kami akhirnya sampai di rumahnya pak Pudin. Saat kami datang, Andro dan Kaysan sudah datang. Ceca dan Zaky ternyata ada di belakang kami saat sedang jalan.
Sebelum kami makan, kami tidak lupa untuk berdoa dulu.

IMG_20161214_185954_HDR.jpg
Makan malam! CREDIT: Jaladwara

Aku makan nasi dengan lauk lele mangut dan trancam. Lele mangut adalah lele digoreng, trancam adalah sayur kemangi, toge, kelapa dan buncis. Aku sangat suka trancam-nya karena rasanya agak manis, dan ada kemanginya! Aku suka sekali kemangi, makanya aku suka trancam.

IMG_20161214_190020_HDR.jpg
Dari ki-ka: nasi, lele mangut, tahu goreng, sayur trancam, tempe goreng. CREDIT: Jaladwara

Selesai makan, kami berdiskusi per kelompok. Kelompokku melanjutkan diskusi tadi sore, yaitu proyek riset pribadi. Aku berdiskusi dengan kak Melly tentang proyekku, mencari tahu cemilan yang dibuat di Maitan.

Selesai berdiskusi, kami menulis logbook. Saat aku sudah selesai, aku lapor kepada kak Inu dan kak Melly, dan logbookku diperiksa mereka. Semua logbook kami diperiksa.

IMG_20161214_200651_HDR.jpg
Menulis logbook kami. CREDIT: Jaladwara

Selesai diperiksa, aku bercanda-canda dengan yang lain, dan sempat membaca sebuah buku sambil menunggu yang lain.

Setelah semuanya selesai menulis logbook, waktunya kami pulang. Saat kami hendak pulang, kami harus membangunkan Ceca dulu karena Ceca tertidur.

Ternyata Ceca memang susaaahh dibangunkan, seperti kata Zaky :O

Akhirnya Ceca bangun. Saat kami keluar rumah, ternyata hujan! Untungnya, hujannya tidak begitu deras. Kami disuruh memakai jas hujan kami, tapi aku tidak bawa jas hujanku. Jas hujanku ada di homestay Antasena. Beruntung, istrinya pak Pudin bersedia untuk memberikan jas hujan sekali pakai.

Kami pun pulang dengan hujan-hujanan.

Sesampai di homestay, Adinda mengingatkan aku dengan suvenir yang akan kami berikan kepada bu Roh. Aku juga lupa, bahwa besok adalah malam terakhir disini.

Kami akan memberikan sebuah tote bag dengan sebuah gambar yang aku dan Adinda akan gambar. Sebelumnya di jakarta Donna sudah membeli tote bag-nya, Adinda juga sudah membawa spidol khusus untuk kain.

Akhirnya sebelum kami tidur, aku dan Adinda menggambar dulu. Kami memulai dengan menggambar sketsanya. Sketsa pertama adalah kaligrafi “Matur Nuwun”, karena kami ingin ibu Roh mengingat bahwa kami berterima kasih. Setelah Adinda selesai membuat sketsanya di tote bag-nya, lalu Adinda mewarnainya. Setelah tulisan kaligrafi, kami memutuskan untuk memberi daun-daun kecil di dekat tulisan “Matur Nuwun”.

Aku dan Adinda akhirnya kehabisan akal, dan memutuskan untuk tidur. Adinda tidur duluan, lalu aku dan terakhir Donna.

Perasaanku hari ini: 
Mulai senang, karena kelompokku mulai bekerja sama, karena kami bersepeda, dan karena aku dapat menertawai tingkah lakunya Zaky dan Andro ketika sedang berfoto-foto di pemandangan pucuk Candi Borobudur 🙂

Laporan keuangan: 

Pengeluaran:

Pembalut = Rp. 6,500
Andong kemarin = Rp. 10,000
Tempe = Rp. 10,000
Parkir sepeda = Rp. 3,000

Total pengeluaran: Rp. 29,500

Sisa saldo: Rp. 509,000

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s