EKSPLORASI: Day 4.

Kamis, 15 Desember 2016

Jam 6:00 pagi WIB.

Aku bangun tidur. Donna dan Adinda bangun duluan, lalu Adinda membangunkan aku.  
Setelah aku bangun, minum, dan cuci muka, aku, Adinda dan Donna sarapan. Aku sarapan nasi, ayam goreng dan telor dadar.

Setelah kami sarapan, kami mempersiapkan barang-barang untuk dibawa hari ini.

Saat kami sedang mempersiapkan barang-barang untuk dibawa hari ini, kami mendengar bunyi beberapa sepeda berhenti di homestay kami. Ternyata semua anak eksplorasi menjemput para cewek! Aku agak kaget, tapi senang juga, karena para cowok perhatian :V

Kami pun mengambil sepeda kami dan ke Gatotkaca.

Sesampainya kami di Gatotkaca, kami langsung di briefing oleh kakak-kakak tentang kegiatan pagi ini. Pagi ini kami akan ke Pasar Borobudur, letaknya dekat dengan Candi Borobudur. Kali ini, kami tidak akan bekerjasama per kelompok, tetapi per orang.

IMG_20161215_064927_HDR.jpg
Briefing sebelum jalan ke Pasar Borobudur. CREDIT: Jaladwara

Kami memulai perjalanan kami.

Jam 7:30 pagi WIB.

Sesampainya kami di Pasar Borobudur, kami langsung mengunci sepeda kami seperti kemarin, berdasarkan kelompok. Setelah kami selesai mengunci, kami berpencar dan janjian untuk bertemu lagi di parkiran jam 8:30.

Aku mewawancarai narasumber pertama, yaitu penjual tahu, namanya ibu Suramin. Ibu Suramin membuat tahu jualannya sendiri di Sidoarjo. Setelah wawancara, aku membeli tahunya.

Setelah bertemu ibu Suramin, aku mencari penjual tahu lain, siapa tahu ada yang mengambil tahu-nya dari dusun Maitan.

Aku bertemu dengan narasumber kedua, penjual tahu juga. Namanya ibu Marli. Tahu-nya dibikin sendiri juga, di Tanjung Sari. Aku bertanya kepada ibu itu, “Rata-rata tahu-nya pada bikin sendiri ya bu?” Lalu ibu itu menjawab, “Iya, kebanyakan bikin sendiri.”
Yang kali ini aku tidak dapat banyak informasi karena aku bingung mau bertanya apa lagi.

Aku keliling Pasar Borobudur cukup lama sebelum akhirnya aku dapat narasumber ketiga.

Narasumber ketiga adalah penjual tempe, namanya pak Slamet. Di tempat beliau menjual tempenya, ada sebuah tempe dengan sedikit warna hitam-hitam. Aku tidak tahu apa hitam-hitam itu. Saat aku bertanya tempe apa itu, ternyata itu adalah tempe kedelai hitam! Tempenya dari Magelang, dan kedelainya lokal dari Sumbawa.

Saat aku selesai mewawancara, dan sedang keliling, aku bertemu dengan Ceca. Aku bertanya dia mencari apa, dan pada saat dia bilang mencari tahu kedelai, aku langsung mengajaknya bertemu pak Slamet.

Setelah dia selesai wawancara, aku bertanya jam kepada Ceca. Ternyata sudah jam 8:20. Waktunya kembali ke parkiran dimana kami memarkirkan sepeda.

Saat kembali, aku, Ceca dan Fattah yang duluan ke parkiran, lalu Donna, Andro dan Kaysan, Adinda, dan terakhir Zaky.

Kami lalu bertemu dengan kakak-kakak fasilitator. Kakak-kakak fasilitator memberi tahu kegiatan selanjutnya. Kegiatan selanjutnya adalah ke Rumah Ketela. Spontan aku langsung berkata, “Oh, yang disitu ya kak? Kmaren kita lewatin kan?” “Iya, kmaren kita lewatin.” Kak Melly menjawabku. “Oh, tau, tau!” kataku. “Ya udah, nanti kamu yang pimpin aja.” kata kak Melly. Aku langsung senang, karena aku satu-satunya yang sadar bahwa kemarin kami melewati Rumah Ketela saat sedang jalan ke sebuah sawah dan melihat pucuk Borobudur.  

IMG_20161215_084158.jpg
Berkumpul sebelum ke Pasar Borobudur! CREDIT: Jaladwara

Jam 8:45 pagi WIB.

Kami jalan, di temani oleh kakak-kakak di belakang.

IMG_6474.jpg
Menuju Rumah Ketela. CREDIT: Jaladwara

Saat kami sedang jalan, tiba-tiba Yudhis berhenti. Ternyata Yudhis berhenti karena tali pegangan tasnya putus. Benangnya tidak kuat untuk menahan barang-barang Yudhis. Karena tidak bisa dibetulkan, aku menawarkan untuk menaruh tasnya Yudhis di keranjangku. “Mau! Syukur, gue jadi gak bawa apa-apa.” Kata Yudhis. Nampaknya dia senang karena dia jadi ringan, tidak sibuk membawa tas.

Kami sampai di Rumah Ketela, lalu memarkirkan sepeda kami.
Kakak-kakak fasilitator memperkenalkan ibu Ida, pemilik Rumah Ketela kepada kami.
Setelah bersalaman kami diajak untuk duduk di sebuah tempat. Tempat itu memang khusus untuk kumpul-kumpul.

Kami disajikan berbagai cemilan. Ada eggroll dari tepung suweg, 2 macam singkong goreng: singkong goreng keju dan coklat, dan singkong goreng dengan saus pepaya. Saus pepayanya lumayan pedas. Ada juga sebuah cemilan dari ubi ungu, enaaaakkk sekali rasanya, namun aku lupa untuk mencatat namanya :/

IMG_6479.jpg
Berbagai cemilan yang sangat enak! CREDIT: Jaladwara

Setelah kami makan, kami diajak ke dalam dapurnya Rumah Ketela. Di dalam dapur, kami melihat seorang mas-mas sedang memasak eggroll yang tadi kami makan. “Bahan-bahannya apa?” Itu pertanyaan pertama yang kami keluarkan. Bahan-bahannya adalah telur, tepung terigu, tepung suweg, dan susu kental manis.

Saat kami sedang memperhatikan cara mas itu menggulung, mas itu menawarkan jika kami mau mencoba menggulung. Aku, Adinda, Ceca, Andro, dan Zaky mencoba menggulung.

Setelah menggulung, mas itu mempersilahkan makan hasil gulungan kami sendiri. Eggroll-nya masih hangat dan lembek, namun enak!

Setelah kami mencoba menggulung, kami melihat ada seorang ibu-ibu sedang mengaduk adonan sesuatu dengan mixer. Ternyata itu adalah adonan eggroll.

DSC_0213.jpg
Melihat adonan eggroll. CREDIT: Jaladwara

Setelah melihat-lihat di dapurnya, kebetulan salah satu kantong ketela akan digiling menjadi tepung, jadi kami melihat proses penggilingannya.

Ketelanya sudah dikupas bersih, sudah dipotong-potong, dan sudah dikeringkan.
Digilingnya memakai mesin cemel.
Hasilnya halus, tapi banyak serangga kecil seperti kutu, maka harus di saring dulu lagi.

IMG_20161215_102033.jpg
CREDIT: Jaladwara
IMG_20161215_102634_HDR.jpg
Hasil jadinya. 5 anak ini malah memainkan tepungnya… -_- CREDIT: Jaladwara

Setelah melihat proses penggilingan ketela, ibu Ida mengajak kami untuk melihat ke kebunnya. Di kebun itu, kami melihat berbagai macam tanaman.

Setelah selesai melihat-lihat tanaman, kakak-kakak fasilitator menawarkan jika ada yang mau ke toko di Rumah Ketela yang berisi hasil-hasil dari dapur yang kami kunjungi itu.

Kami semua kesana. Karena tadi mendengar pak Aris bilang ada es krim tepung ubi ungu dan tepung jagung, aku tertarik sekali untuk mencobanya.

Saat sedang memilih antara es krim ubi ungu atau jagung, kak Kukuh bilang bahwa ia pernah mencoba yang ubi ungu, dan katanya enak. Aku akhirnya mencoba es krim ubi ungu. Harganya Rp. 4,000/cup.

IMG_20161215_110428_HDR.jpg
Bersantai setelah belanja di tokonya Rumah Ketela.  CREDIT: Jaladwara

Setelah kami selesai berbelanja di toko itu, kakak-kakak fasilitator menyuruh kami untuk mencari makan sendiri, lalu mencari 2 home industry, yaitu home industry tahu dan home industry jetkolet. Makan siangnya sekarang tidak bersama-sama, tetapi per kelompok lagi.
Yudhis mengusulkan kepadaku dan Fattah untuk ke home industry cripping dulu.

Sebelum kami jalan, kami berfoto dulu bersama ibu Ida, baru kami jalan.

DSC_0265.jpg
Foto di depan toko Rumah Ketela! CREDIT: Jaladwara

Aku, Yudhis dan Fattah mengayuh sepeda kami ke home industry cripping. Kami satu-satunya kelompok yang belum mewawancarai narasumber di home industry cripping.

Sesampainya kami di home industry cripping, kami bertemu dengan ibu Tika, istrinya pak Naim. Kami memulai wawancara.

Pak Naim di bagian memanen ketela, mengupas, dan memotong. Ibu Tika di bagian mencuci, menggoreng, menaruh bumbu dan memasukkan ke kantong plastik. Kata bu Tika, kalau untuk mengupasnya lama, satu-satu. Kalau untuk memotong, cepat.
Prosesnya kupas, cuci, potong, lalu cuci lagi.
Kulit ketelanya bisa untuk makanan kambing, air bekas cuciannya bisa untuk minumnya sapi.
Bumbunya memakai Royco rasa sapi.
Awal mulanya mereka membuat cripping untuk turis, namun lama-lama mereka memutuskan untuk dijual. Ibu Tika sudah membuka bisnis cripping ini selama 7 tahun. Ibu Tika belajar sendiri membuat cripping selagi berjualan.
Aku dan Fattah mencoba mencuci, lalu Yudhis mencoba menggoreng.

Setelah kami selesai mewawancarai bu Tika, kami jalan ke home industry tahu.

Kami sempat nyasar, dan saat kami bertanya kepada seorang mas-mas, ternyata home industry tahu dekat sekali dengan home industry jetkolet!

Di home industry tahu, kebetulan kami bertemu dengan pemilik home industry tahu ini. Namanya pak Sukarman.

Pak Sukarman menjual tahu mentah dan tahu goreng ke pasar Muntilan.
Beliau telah membuka bisnis tahu sejak tahun 1975. Karyawannya semua pada saat ini ada 5.
Resep tahu-nya dari pabrik tahu. Ternyata dulu pak Sukarman pernah bekerja di sebuah pabrik tahu. Jadi semua ilmu yang beliau pelajari selama di pabrik tahu digunakan untuk home industry-nya.
Kedelainya dari pasar Muntilan juga, dan diambil menggunakan mobil.
Air bekas tahu-nya dibuang ke sawah, dan ampas tahu-nya bisa untuk makanan kambing dan bebek.
Untuk tahu goreng, tidak ada bumbunya. Jadi setelah tahu mentahnya sudah jadi, langsung di goreng.

Setelah kami wawancara, kami ke home industry jetkolet.

Kami sampai di home industry jetkolet.
Ternyata jetkolet itu adalah hasil dari gethuk. Jetkolet adalah keripik gethuk yang digoreng dan menggunakan bumbu juga.
Home industry jetkolet ini sudah buka selama 14 tahun, dan pegawai yang sekarang ada adalah 10 orang.
Untuk ketelanya, mereka beli. Tidak seperti pak Naim, yang memanen dari kebun sendiri.
Proses pembuatan gethuk dimulai dari pengupasan ketela, lalu mencuci, dan dikukus. Setelah dikukus, dimasukkan ke dalam mesin penggiling khusus gethuk bersama garam.

DSC_0281.jpg
Melihat gethuk yang sudah jadi. CREDIT: Jaladwara

Jika ingin dibuat menjadi jetkolet, gethuknya dimasukkan ke dalam kulkas selama semalaman, baru di potong-potong, digoreng, lalu diberi bumbu.

Untuk bumbu cripping dan jetkolet, bumbunya garam, bawang, dan micin. Mereka juga menyediakan macam-macam jetkolet berbumbu, tetapi mereka membuatnya tergantung pesanan. Jadi, jika kita ingin jetkolet berbumbu jagung bakar, mereka akan membuatnya.
Sehari mereka dapat membuat gethuk 7 kuintal, dan cripping 2-3 kuintal.
Setelah kami selesai mewawancara, kami membeli jetkolet yang bumbu biasa.

IMG_20161215_132346_HDR.jpg
Stok cripping disini lebih banyak daripada punya bu Tika. CREDIT: Jaladwara

Saat sedang mengambil sepeda kami, kak Kukuh cerita kepada kami. “Itu, katanya kelompok Rawon Ayam mereka udah ke home industry tahu duluan.” Kata kak Kukuh.
Aku dan Yudhis langsung terkejut dan berkata, “Hah? Mana mungkin? Tadi kan kita ke tahu duluan!”
“Tapii… mereka di dusun yang lain.” Kata kak Kukuh sambil tertawa.
Kami pun tertawa, ternyata kelompok Rawon Ayam nyasar ke dusun lain 😀

Yudhis menyuruh aku dan Fattah untuk pulang dulu sebelum mencari makan siang.
“Nanti kumpul di Gatotkaca jam 2:30 ya.” Kak Kukuh mengingatkan.
“Oke. Duluan ya kak!” Kami pamit dengan kak Kukuh.

Aku pun pulang ke homestayku, lalu mandi. Selesai mandi, aku menulis logbookku. Aku mendengar suara sepeda. Pasti itu Fattah dan Yudhis.
Aku benar, itu adalah Fattah. Dia menjemputku dan mengajakku untuk ke homestaynya dia karena Yudhis masih disana.

Aku dan Fattah ke homestay Puntodewo. Saat kami memanggil Yudhis, ternyata Yudhis ketiduran. Kami akhirnya mencari makan buru-buru karena sudah jam 2:10, dan kami hanya punya 20 menit untuk cari makan dan makan.

Kami mengayuh sepeda kami cepat sekali, dan kami sempat ingin makan di angkringan dekat Plataran. Namun ternyata angkringan itu belum buka, baru buka jam 3, kata seorang mas-mas yang kami tanyai. “Kalo mau makan disitu tuh, lurus terus, di jalan raya.” Kata mas itu.

Kami akhirnya ke jalan raya, dan begitu aku melihat ada warung mie ayam, aku langsung mengajak mereka untuk makan disitu saja.

Kami memesan 3 mie ayam, lalu duduk. Yudhis melihat jam, ternyata jam 2:28! Tak cukup 2 menit untuk kami makan lalu ke Gatotkaca! Yudhis mengabari kakak-kakak fasilitator. Saat kami bertiga sedang menulis logbook sambil menunggu mie kami, ada SMS masuk dari kakak-kakak.

“Ok Yudhis. Diskusinya jam 3 kok, gak usah buru-buru. Selamat makan yaa…”

Seingatku itulah SMS-nya.
“Telat… kita udah makan cepet-cepet..” kata Yudhis. Untung saja kami tidak sakit perut karena makan terlalu cepat.

Selesai makan, kami membayar makan kami masing-masing. Aku membayar 1 mie dan 1 es teh manis.

Kami lalu kembali ke Gatotkaca. Saat kami kembali ke Gatotkaca, kelompok Marimas Rasa Soto sudah datang. Kami pun menunggu beberapa menit sebelum akhirnya kelompok Rawon Ayam kembali.
Setelah semua sudah lengkap, kami mulai diskusi lagi.
Kali ini, kami berdiskusi tentang apa pentingnya mencari dan meriset pangan lokal.
Kami disuruh untuk menuliskan pendapat kami di sebuah kertas. Kami hanya punya 2 menit untuk menulis pendapat kami. Aku karena tidak tahu menulis apa, akhirnya aku menulis hanya 2 pendapat.
1, Supaya kita bisa mengenang jerih payah petani.
2, Pangan lokal lebih enak daripada impor.

IMG_20161215_151349_HDR.jpg
Diskusiii.. CREDIT: Jaladwara

Selesai kami diskusi, kami diperbolehkan keliling dusun Maitan lagi.
“Nanti jam 7, setelah makan malam kumpul disini lagi,” kata kak Inu.

Tadinya aku, Adinda dan Donna akan keliling bersama-sama, namun ternyata Donna tidak enak badan, akhirnya aku dan Adinda saja yang keliling.
Aku dan Adinda setuju untuk melihat bu Roh.

Kami bertemu dengan pak Kambali dan bu Roh, dan ini pertama kalinya aku dan Adinda bertemu pak Kambali. Sebelumnya kami belum pernah bertemu.
Kami mengobrol dengan bu Roh dan pak Kambali. Aku dan Adinda lebih banyak mengobrol dengan bu Roh, karena pak Kambali lumayan sibuk.

Ternyata pak Kambali dan bu Roh mempunyai ternak, dan kami lalu meminta untuk melihat ke kandangnya.
Kandangnya kecil, mereka mempunyai 2 sapi di kandangnya.
Dua-duanya adalah jantan.
Ternyata salah satu sapinya baru saja sakit demam. Kata pak Kambali sapi jika sedang sakit juga seperti manusia, tidak mau makan, badannya panas, tidak banyak gerak.

Pak Kambali mengambil anak sapinya dari pasar, lalu menjual sapi yang sudah tumbuhnya ke pasar juga. Dijual ke pasar organik.
“Udah maghrib, yuk, pulang..” bu Roh mengajak kami pulang.
Saat kami hendak sampai di homestay kami, bu Roh menawari jika kami ingin melihat sapi yang betina.
Kami melihat sapi betina milik tetangganya bu Roh. Ada beberapa, kira-kira 4-5 ekor sapi.
Setelah kami melihat sapi, kami diajak juga melihat kambing. Ada 2-3 ekor kambing. Saat sedang melihat kambing, mulai gerimis. “Wah, gerimis nih. Pulang, yuk..” ajakku. “Yuk, yuk..” jawab bu Roh.

Kami pun sampai juga di homestay. Saat aku dan Adinda masuk ke kamar kami, ternyata Donna sudah tidur.
“Ngelanjutin tote bag, yuk,” bisikku kepada Adinda. “Yuk,” jawab Adinda.

Aku dan Adinda melanjutkan gambar di tote bag kami. Gambar besarnya sudah jadi, tinggal detil-detilnya. Kami cuma menambahkan gambar rumah dan bebek.

Selesai kami gambar, aku membangunkan Donna, lalu kami makan malam.  

Setelah kami selesai makan malam, kami ke Gatotkaca. Saat kami datang, semua anak sudah ada.
Kami semua menunggu kakak-kakak untuk selesai makan malam sebelum kami memulai diskusi.
Saat mereka sudah selesai, kami memulai diskusi.

“Jadi malam ini kita ke vihara, ngeliat bhiksu-bhiksu doa. Disana kalian harus diam ya. Ada yang udah pernah ngeliat mereka doa?” Kata kak Melly
“Aku belum pernah ngeliat cara mereka doa, tapi temen-temenku di wushu banyak banget yang Buddhist,” kataku.
Setelah briefing sebentar, kami memulai perjalanan kami ke vihara.

Kami berurutan menurut kelompok. Dari Marimas Rasa Soto, Rawon Ayam, dan terakhir Nasi Uduk. Kak Inu dan kak Melly disamping kami, naik motor.

Ditengah-tengah perjalanan, kaki Yudhis kram, dan celananya tersangkut gigi sepeda. Aku dan Fattah berhenti dulu. Kak Inu dan kak Melly ikut menemani.

“Kenapa, Dhis?” Tanya kak Melly.
“Kram, kak,” kata Yudhis sambil agak meringis.
“Celananya sobek, kakinya kram,” aku membantu menjelaskan.
“Lupa pemanasan lagi ama Yla sih ya?” kata kak Melly kepada kak Inu. Ternyata aku jadi ahli pemanasan 😀

Kak Melly membantu Yudhis agar tidak kram, kak Inu menyusul anak-anak yang lain agar mereka berhenti dulu.

Akhirnya kaki Yudhis sudah tidak kram. Kak Melly mengingatkan Yudhis dan Fattah untuk menggulung celananya agar tidak kena gigi sepeda. Aku tidak apa-apa, karena gigi sepedaku dilindungi.

Setelah semuanya beres, kami lanjut jalan menyusul yang lain.
Saat kami sampai, Zaky mengusulkan agar membunyikan bel sepeda jika ada apa-apa. Kami setuju.

Kami jalan lagi. Namun, ditengah-tengah perjalanan ada masalah lagi. Pijakan kaki sepedanya Zaky copot. Untungnya dapat ditemukan kembali, namun agak susah untuk di pasang lagi.

Setelah semua sudah beres, kami jalan lagi.
Kami banyak berhenti ditengah-tengah perjalanan, sekitar 3-4 kali.
Ternyata jalannya jauh! Tapi karena bersama teman-teman, tidak berasa jauh.

Kami akhirnya sampai di viharanya. Viharanya ini persis disampingnya Candi Mendut.
“Ternyata hari ini gak ada ibadah..” kata kak Melly memberi kabar buruk bagi kami.
“Tapi kalian masih bisa liat-liat ke dalem. Jangan berisik, ya.” lanjut kak Inu. Kami semua senang, walaupun tidak bisa melihat para bhiksu beribadah.

Setelah kami selesai melihat-lihat, kak Inu bercerita tentang relief-relief yang ada di Candi Borobudur. Aku ikutan bercerita.

IMG_20161215_203151.jpg
Kak Inu sedang bercerita tentang relief. CREDIT: Jaladwara

“Aku punya buku anak-anak soal cerita-cerita buddha. Nah ternyata pas lagi ke Borobudur cerita yang ada di buku itu sama dengan di reliefnya. Aku ngerti cerita-cerita itu karena buku anak-anak itu.”

Semua anak-anak eksplorasi tertarik dengan buku-ku itu. “Pertemuan oase deh, aku bawa buat kalian.” Kataku.

Saat sedang berjalan keluar vihara, aku sempat bercerita dengan Zaky. Pertamanya tentang Phuntuk Sethumbu. “Di Phuntuk Sethumbu bisa liat Candi Mendut, Candi Pawon, ama Candi Borobudur berjajar.” Kataku. Karena Zaky belum pernah ke Candi Borobudur, apalagi ke Magelang, aku bercerita banyak hal agar saat dia jalan-jalan ke Magelang, dia akan menikmati perjalanannya.

“Dari Phuntuk Sethumbu juga bisa liat Gereja Ayam!” Kataku bersemangat karena cerita Gereja Ayam adalah yang paling menarik.

Aku: “Jadi, Gereja Ayam itu bentuknya ya kayak namanya, ayam. Tadinya ada orang pengen bikin gereja yang bentuknya merpati, kan bentuk roh kudus tuh. Tapi pas udah hampir mau jadi, malah kayak ayam. Si pemilik akhirnya ninggalin. Gue belum pernah kesana, tapi liat dari luarnya aja udah ngeri.”
Zaky: “Ooo.. jadi si pemiliknya ninggalin gitu aja yak? Hmm.. lu tau darimana ceritanya?”
Aku: “Dari eyang gue. Pernah diceritain.”

Seperti itulah percakapan kami.

Kakak-kakak fasilitator lalu mengajak kami untuk melihat Candi Mendut.

Agak susah melihat Candinya, karena gelap.
Kami banyak berbagi cerita, sebelum akhirnya kami harus pulang.

IMG_20161215_205000.jpg
Berbagi cerita di depan Candi Mendut. CREDIT: Jaladwara

Kami pun pulang bersama-sama, dan syukur tidak ada masalah.

Sesampainya kami di Maitan, kami mengobrol dan bercanda dulu sebelum kami pulang. Tapi kenapa, topiknya harus cerita seram.. -_-

Kakak-kakak fasilitator menyuruh kami untuk mengembalikan sepeda-sepeda kami ke rumahnya pak Dodo.

“Terimakasih atas kerja kerasmu, ya. :)” Kataku dalam hati kepada sepeda yang 2 hari kemarin aku pakai.

Setelah kami mengembalikan sepeda-sepeda kami, kami masih mengobrol di Gatotkaca sebelum akhirnya para cewek pulang duluan.

Sesampainya di homestay Antasena, kami langsung merebahkan diri. Namun karena logbook hari ini belum selesai, kami menulis dulu sebelum akhirnya kami tidur.

Perasaanku hari ini:

Senang sekali, karena bisa ke Rumah Ketela, membeli ubi ungu, dan bercerita banyak hal kepada teman-temanku. 🙂

Laporan keuangan: 

Pengeluaran:

Tahu = Rp. 1,500
Es krim ubi ungu = Rp. 4,000
Patungan jetkolet = Rp. 3,000
Mie ayam = Rp. 7,000
Es teh manis = Rp. 2,000
Biaya makan & sepeda ke kak Inu = Rp. 110,000

Total pengeluaran: Rp. 127,000

Sisa saldo: Rp. 382,000

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s