EKSPLORASI: Day 5.

Jumat, 16 Desember 2016

Jam 6:00 pagi WIB.
Tidak berasa, sudah waktunya kami pindah ke kota lain.

Aku memulai packing tasku, lalu aku mandi. Setelah aku mandi, aku, Adinda dan Donna sarapan pagi.

Sambil kami sarapan, kami mengobrol tentang kapan kami akan memberikan tote bag-nya kepada bu Roh. Kami setuju, sebelum kami ke Gatotkaca, kami akan memberikannya.

Setelah sarapan, kami bertiga menyelesaikan packing.

Kami selesai packing, dan memberikan tote bag-nya.
“Ini suvenir dari kami, bu. Ini kami yang gambar,” kataku.
“Makasih banyak ya bu, selama 3 hari ini. Maaf banget kalo ada salah ya bu..” kataku, Adinda dan Donna.
“Iya.. ibu juga minta maaf kalo ada salah..” jawab bu Roh.
Selesai kami berpamitan, kami ke Gatotkaca.

Sampai di Gatotkaca, para cowok-cowok belum datang.
“Kalian udah pamitan ama tuan rumahnya? Udah ngasih suvenir?” Tanya kak Melly sambil kebingungan melihat kami bertiga sudah bawa tas.
“Udah kak, tapi nggak foto..” Jawabku.
“Yahh.. mustinya difoto waktu lagi ngasih tasnya,” jawab kak Melly.

Setelah kami mengobrol, kakak-kakak akan memoto anak-anak eksplorasi yang lain dengan keluarga tuan rumah mereka.
Aku, Adinda dan Donna ikut dengan kak Inu dan kak Melly.

Kak Inu dan kak Melly memoto Zaky dan Ceca dulu.
Saat hendak difoto, anak tuan rumahnya salah peluk kaki orang 😂
Dia bermaksud untuk memeluk kaki ayahnya, namun ternyata yang dipeluk malah kakinya Zaky. Lucu sekali ekspresi muka anaknyaa…

Setelah Zaky dan Ceca, Yudhis dan Fattah difoto, lalu Andro dan Kaysan.

Dari ki-ka: Yudhis dan Fattah bersama keluarganya, Andro dan Kaysan bersama keluarganya, Zaky dan Ceca bersama keluarganya. CREDIT: Jaladwara

Setelah semuanya difoto, kak Inu bertanya jika kami ingin difoto dengan bu Roh. “Boleh,” jawabku.
Kami memanggil bu Roh, berfoto, lalu kak Inu dan kak Melly meminta maaf kepada bu Roh jika kami bertiga ada salah.

dsc_0307
Bersama bu Roh. Dari ki-ka: Aku, bu Roh, Adinda, Donna. CREDIT: Jaladwara

Setelah semua sudah difoto, semua kumpul di Gatotkaca kecuali Zaky dan Ceca, karena mereka sarapan dulu.
2 andong yang Yudhis, Kaysan dan Andro pesan kemarin saat di pasar Borobudur datang.
Kami semua kecuali Zaky dan Ceca berfoto dengan pak Naim, sebagai koordinator homestay.

img_20161216_080210_hdr
Gaya “Perindo!” oleh Yudhis dan Kaysan 😀 CREDIT: Jaladwara
dsc_0318
“Ketelaaa!” CREDIT: Jaladwara

Setelah kami berfoto, kami berpamitan.

img_20161216_080240_hdr
Berpamitan. Semoga aku (dan kami) dapat kesempatan untuk ke dusun ini lagi 🙂 CREDIT: Jaladwara

Setelah itu, kami naik ke dalam andong. Aku duduk di andong yang berisi 4 anak bersama Donna, Adinda, dan Yudhis.

IMG_20161216_080652_HDR.jpg
Foto sebelum kami jalan! CREDIT: Jaladwara
DSC_0325.jpg
Andong yang aku naiki bersama Adinda, Donna, dan Yudhis. CREDIT: Jaladwara

Karena Zaky dan Ceca lama, kakak-kakak menyuruh andongnya untuk menjemput mereka di depan homestay mereka.

Saat andong sudah mulai sampai di homestay Dewi Shinta, Zaky dan Ceca langsung naik. Agak seram, karena andongnya Ceca, Zaky, Andro, Kaysan, dan Fattah miring sekali! Bahkan kakinya Andro tidak bisa dimasukkan ke dalam andong! Kakinya Andro menggantung begitu saja.

IMG_20161216_080823_HDR.jpg
Kaki Andro yang menggantung dan andong yang miring sekali :/ CREDIT: Jaladwara

Kami sampai di Terminal Borobudur. Yudhis membayar andong yang berisi 4 anak, lalu aku membayar kepada Yudhis.
Sesampainya di Terminal Borobudur, kami langsung mencari sebuah bus untuk dinaiki. Kami naik salah satu bus, lalu kami berangkat ke Terminal Jombor.

Saat sedang di jalan ke Terminal Jombor, waktunya membayar. Yang pertama membayar adalah Yudhis. Pada saat Yudhis membayar 15.000, kenek-nya menagih untuk membayar 20.000.
“Gak ada lagi, mas.” jawab Yudhis. Akhirnya sang kenek menerima uang 15.000 dari kami semua, berkat Yudhis 😀

Kami akhirnya sampai di Terminal Jombor.
Sesampainya kami di Terminal Jombor, kami langsung ke halte TransJogja. Kami naik bus 2A.

Saat sedang di bus, aku sedang duduk, melamun ke jendela, ketika tiba-tiba Zaky memanggil aku.
“La, tuh, tuh!” Kata Zaky sambil menunjuk ke arah bapak-bapak dan Ceca yang sedang mengobrol. “Ada apa?”, pikirku. Aku memperhatikan mereka. Nampaknya sedang mengobrol biasa..
Aku akhirnya tidak memperhatikan karena susah juga, kepalaku harus miring untuk melihat mereka.

Kami transit di Malioboro untuk naik bus 3A. Setelah kami semua turun, Ceca bercerita tentang bapak-bapak yang tadi mengobrol dengan dia. Ternyata mereka bukan sedang mengobrol, melainkan berdebat! Mereka berdebat tentang homeschooling.

“Katanya bapaknya, “kalo saya jadi presiden, saya akan buat homeschooling illegal!”, gitu!” kata Ceca.
“Trus katanya, “kalo saya jadi presiden, saya akan buat homescholing illegal!”,” lanjut Ceca.
“Iyak, dia jadi presiden, illegalin homeschooling, trus jadi mantan presiden :V,” kata Yudhis (kalau tidak salah).
Kami semua langsung tertawa keras sekali.
Bus 3A datang, lalu kami naik. Selama di bus, kami bercanda soal si bapak “homeschooling illegal”.

Kami turun di halte SMA 7, lalu keluar dari halte.

img_20161216_105123_hdr
Menyebrang. CREDIT: Jaladwara

Menurut buku saku, kami harus naik bus yang ada tulisan “N”. Bus itu tujuannya ke Selo Lor.

Busnya akhirnya datang. Kami lalu naik.
Botol minumku hampir saja ketinggalan karena jatuh. Untung Ceca memberitahu aku bahwa botol minumku jatuh.

Di bus, sang supir menyetel lagu-lagu dangdut karaoke di layar tv-nya lengkap dengan subtitle. Melihat itu, Zaky dan Andro ikut-ikutan menyanyi dengan suaranya yang aneh 😂
Kami membayar 7,000 untuk busnya.

Ternyata selama perjalanan, aku sempat tertidur. Tidur larut malam dan bangun pagi selama di Maitan jadi membuatku selalu ngantuk.
Aku dibangunkan oleh Adinda, karena kami hendak turun.

Kami turun bersama 2 orang ibu-ibu. Aku karena baru bangun, masih agak “bego” 😛
Kami ikut berjalan dengan 2 ibu itu.
Ternyata, kami mengikuti 2 ibu itu karena kebetulan mereka mau ke Ngingiringan. 2 ibu itu sempat berpisah karena mereka ke tempat yang berbeda.

IMG_6002.JPG
Memasuki dusun Ngingiringan. CREDIT: Jaladwara

Pada saat kami sedang berjalan, Yudhis menawarkan untuk membawa tasnya ibu itu. Tidak lama kemudian, aku lihat bahwa Yudhis kesusahan membawa tas ibu itu, lalu aku menawarkan untuk bergantian membawanya.
Pantas saja Yudhis kesusahan, berat sekali! Aku heran, tadi sepertinya ibu itu nampak biasa saja membawa tas ini.
Zaky melihat aku kesusahan, dan menawarkan untuk bergantian membawanya. Zaky pun juga kesusahan!

Ibu yang kami ikuti berhenti dan bertanya kami menginapnya dimana. Karena kami berbeda-beda, arah jalannya pun berbeda-beda.
Dan pada saat kami sedang diberikan arah dari ibu itu, kak Kukuh datang! Ternyata, kami harus ke rumahnya bu Cicil dulu.
Akhirnya kami semua berpisahan dengan ibu itu. Ternyata namanya bu Marsinah.

img_20161216_120535_hdr
Aku sedang bersalaman dengan bu Marsinah. CREDIT: Jaladwara

Setelah kami bersalaman dengan bu Marsinah, kami ke rumahnya bu Cicil dan dikenalkan dengan bu Cicil oleh kak Kukuh.

Saat aku sedang salaman, aku langsung melontarkan sebuah pertanyaan.
“Bu, katolik ya?” tanyaku. Aku bertanya begitu karena aku melihat patung salib lengkap dengan tubuh Yesus! Biasanya, kalau salibnya ada tubuh Yesus, pasti katolik.
“Iya..” jawab bu Cicil. Ah! Aku senang sekali karena aku bertemu keluarga katolik juga 🙂

Kami dipersilahkan duduk, lalu disajikan berbagai cemilan.
Ada kacang, salak, pisang, dan minuman bunga Telang.
Minuman bunga telang ini isinya air, bunga telang, dan jeruk nipis.
Kata bu Cicil, kalau tidak dimasukkan jeruk nipis, warnanya akan biru sekali. Tetapi karena dimasukkan jeruk nipis, warnanya jadi ungu.

IMG_20161216_133904.jpg
Berbagai cemilan yang kami makan. CREDIT: Jaladwara
IMG_20161216_121056_HDR.jpg
Mengobrol dengan ibunya bu Cicil. CREDIT: Jaladwara

Selagi kami menunggu sepeda, aku mengobrol dengan bu Cicil.
“Bu, biasanya misa dimana?” Tanyaku. Dari kemarin, Andro, aku, dan Donna memang sudah berencana misa karena akan melewati hari minggu.
“Biasanya di Ganjuran situ,” jawab bu Cicil.
“Wah, berarti minggu bisa misa ke Ganjuran!” Jawabku senang. Ganjuran terkenal dengan patung Yesus yang berdanda ala jawa di dalam sebuah candi, dan juga terkenal akan air sucinya.
“Berarti, aku bisa bawa oleh-oleh air suci untuk keluarga! Semoga gak bentrok ama kegiatan..” Pikirku.

Bu Cicil juga bercerita bahwa sabtu malam akan ada misa perarakan salib AYD. AYD adalah Asian Youth Day/Hari OMK (Orang Muda Katolik) se-Asia.
Salib AYD ini sudah mengelilingi Asia, ada di Indonesia dan setelah Bandung, Jogja berikutnya!

Kami mengobrol, bercanda, dan menulis logbook sambil menunggu sepeda kami.

IMG_20161216_125538.jpg
Bercanda dan menulis logbook. CREDIT: Jaladwara

Bu Cicil juga cerita, bahwa kalau sedang naik bus banyak pencopet. Bu Cicil pernah kecopetan juga. Katanya, biasanya ada 5 orang yang saling bekerja sama untuk mencopet. Kami disuruh untuk berhati-hati.

IMG_20161216_133910.jpg
Bu Cicil sedang bercerita tentang pengalaman dicopet. CREDIT: Jaladwara

Kami agak ketakutan mendengar cerita bu Cicil, namun kami percaya jika kami bersama-sama, pasti kami bisa aman. 5 pencopet lawan 9 anak yang 2 diantaranya adalah atlit bela diri? Pasti bisa!

Disaat kami sedang mengobrol, bu Cicil memperkenalkan keponakannya, Noel. Kami langsung bermain dengan Noel. Pertama-tama Noel malu, namun lama-kelamaan Noel mulai suka bermain dengan kami. 😀

IMG_6051.JPG
Noel, keponakannya bu Cicil 😀 CREDIT: Jaladwara

Akhirnya sepeda kami datang. Fattah dan Zaky membantu bapak supir truknya menurunkan sepeda-sepeda kami.
Aku langsung mengincar sepeda kumbang lagi, Adinda dan Yudhis ternyata juga mengincar sepeda kumbang! Untungnya ada 2 sepeda kumbang, namun Yudhis jadi tidak pakai sepeda kumbang.

img_20161216_140851_hdr
Memilih sepeda kami 😀 CREDIT: Jaladwara

Setelah memilih sepeda, kami disuruh oleh kakak-kakak fasilitator untuk mencari makan sendiri.
Tadi saat sedang berjalan dengan bu Marsinah, kami melihat sebuah warung mie ayam, dan kami memutuskan untuk makan disitu.

Kami meninggalkan tas kami di rumahnya bu Cicil, lalu berangkat ke warung mie ayam. Kami semua berangkat kecuali Kaysan, karena dia sedang BAB dan menyuruh kami untuk duluan.

img_20161216_142040
Sebelum kami jalan ke warung mie ayam. CREDIT: Jaladwara

Kami sampai di warung mie ayam ini. Semuanya pesan mie ayam, kecuali Ceca. Ceca memesan nasi. Ibu penjual mie ayamnya menawarkan jika Ceca ingin tahu-tempe bacem.

Saat nasi dan tahu-tempe bacemnya datang, ibu itu berkata, “kalo nasi ama tahu-tempenya gak usah bayar..”
Aku berkata kepada Ceca, “Ca, gua curiga. Kayaknya ini makan siangnya mereka deh. Gak disuruh bayar kan? Iya, ini makan siangnya mereka.. ”
Yudhis mengusulkan kepada Ceca agar membeli sesuatu seperti kerupuk untuk membantu penghasilan ibu dan bapak penjual mie ayam.
Mie ayam kami datang, dan ternyata, Zaky belum pernah makan dengan sumpit! Aku dan Yudhis mengajari Zaky cara memegang sumpit yang benar. Lucu melihat ekspresi Zaky yang kesusahan 😀

Setelah semuanya selesai makan, kami mengobrol dan bersantai dulu.
“Ah, udah yuk. Balik,” kata Yudhis. Kami membayar. Aku membayar mie ayam san es teh manis.

Kami ke rumahnya bu Cicil lagi untuk mengambil tas kami, lalu kami pergi mencari homestay kami.

Menurut buku saku,
Aku, Adinda dan Donna di rumahnya pak Gun.
Ceca dan Zaky di rumahnya bu Aan.
Andro dan Kaysan di rumahnya pak Slamet.
Fattah dan Yudhis di rumahnya bu Lina.

Namun, karena ada beberapa kendala, beberapa dari kami ditukar rumahnya. Seperti Zaky dan Ceca, harusnya rumahnya bu Aan, namun diganti menjadi rumahnya bu Lastri.

Aku, Adinda dan Donna ketemu rumahnya pak Gun. Istrinya, bu Gun mempersilahkan kami untuk masuk.
Di rumahnya bu Gun, ada dua rumah kecil yang tersambung dengan sebuah ruangan berisi 2 kamar mandi. Satu rumah kecil berisi 2 kamar.
“Nanti milih kamarnya nunggu kakak-kakaknya aja, ya..” kata bu Gun.
“Oke,” kataku. Aku tidak tahu mengapa menunggu kakak-kakak, tapi mungkin karena ada sesuatu.

Setelah kami menaruh tas kami, aku mengajak Adinda dan Donna untuk berjalan-jalan. Adinda ikut, namun Donna ingin tetap di rumah membaca bukunya.
Aku dan Adinda berjalan-jalan dengan sepeda kami.

Kami sedang berjalan-jalan, ketika tiba-tiba Adinda berkata, “Eh, itu kan Ceca ama Zaky ya?”
“Ah, iya! Samperin yuk,” kataku.

Kami bertemu dengan Ceca dan Zaky di sebuah pertigaan. Mereka sedang bertanya-tanya kepada seorang ibu-ibu.
Ternyata mereka menanyakan rumah bu Lastri.
Aku dan Adinda menghampiri mereka. Kami berdua akhirnya ikut masuk ke dalam rumahnya bu Lastri dan berbincang-bincang dengan bu Lastri dan suaminya, pak Antara bersama Zaky dan Ceca.
Saat sedang berbincang-bincang, Zaky tiba-tiba panik karena sudah waktunya kumpul di rumah pak Gun, rumahnya para cewek.
Kami berempat pamit dengan pak Antara dan bu Lastri.

Saat kami datang, aku dan Adinda melihat banyak jagung yang warnanya bukan kuning melainkan oranye! Kata bu Gun, itu jagung jenis hibrida, khusus untuk makanan ayam/burung.
Kami berdua dipersilahkan untuk mencoba mengupas.
Saat aku dan Adinda sedang mengupas, Zaky dan Ceca ikutan, lalu Andro dan Kaysan, lalu Yudhis dan Fattah.   
Ceca pernah mengupas jagung, jadi dia memberitahu tirk-trik untuk kami :O

img_20161216_162036_hdr
Mencoba mengupas. Agak susah, tapi seru! 😀 CREDIT: Jaladwara

Tak lama kemudian, kami mulai menulis logbook lagi.
Setelah menulis logbook, kami disuruh untuk memilih. Sore ini, kami mau berdiskusi saja atau mengeksplorasi dusun Ngingiringan? Kami memilih untuk mengeksplorasi dusun. Sebelum kami mengeksplorasi, kami diskusi dulu.

dsc_0337
Diskusi time! CREDIT: Jaladwara

Kami berdiskusi tentang apa bedanya dusun Ngingiringan dan dusun Maitan. Dusun Ngingiringan warganya lebih ramah dibandingkan dusun Maitan.
Seperti misalnya, kami hanya berkata kulo nuwun, mereka pasti langsung senang, terkejut dan berkata, “Wah, bisa basa jawa ya?”

Saat kami sedang berdiskusi, tiba-tiba Zaky kaget, badannya agak bersandar ke bahuku (jadi inget kejadian di kereta :P), dan langsung lari ke tengah-tengah ruang tamu. Andro juga reflek lari. Ternyata Zaky dan Andro kaget karena ada laba-laba di tembok. Zaky dan Andro ini ternyata Arachnophobia, yaitu phobia akan laba-laba.

Tetapi saat Andro lari ke tengah, Andro menabrak Zaky, kacamata Zaky jatuh dan Andro menginjak kacamatanya! Lensanya pecah!
Aku agak bersyukur bahwa itu bukan kacamataku, namun aku juga merasa kasihan kepada Zaky karena katanya itu kacamata milik kakaknya 😦
Setelah laba-labanya sudah dipindahkan oleh Ceca, kami melanjutkan diskusi kami.

Setelah kami diskusi, kami dipersilahkan untuk mengeksplorasi dusun.
Aku, Yudhis, Fattah, Adinda, Donna dan Ceca memutuskan untuk mencari kolongan burung.
Kami melihat burung-burungnya yang sedang latihan. Burung yang aku lihat kali ini masih pemula daripada yang di Maitan.

Tidak berasa, sudah maghrib. Waktunya untuk pulang.
Kami jalan ke basecamp. Sesampainya di basecamp, kami berbarengan dengan Zaky, Andro dan Kaysan.

Di basecamp, lakak-kakak fasilitator menyuruh kami untuk pulang, mandi dan makan malam, lalu ke basecamp lagi. Semuanya pulang, kecuali aku, Adinda, dan Donna karena kami kan sudah di rumah kami 😛

Kami bergantian mandi dengan kakak-kakak. Setelah mandi, kami makan malam.
Setelah kami makan malam, Yudhis, Fattah, Zaky, Ceca, Andro dan Kaysan datang.

Kami semua menulis logbook bersama-sama.

DSC_0346.jpg
CREDIT: Jaladwara

Ketika sedang menulis logbook, tiba-tiba listriknya mati! Kami akhirnya menulis logbook tidak begitu maksimal karena cahayanya kurang, dan akhirnya kami bercanda-canda.
“Gimana sih ni, anak-anak sekolah illegal!” Begitu candaan yang kami dan kakak-kakak buat berkat bapak “HS illegal” 😀

dsc_0364
Walaupun mati lampu, kami tetap bisa bercanda 🙂  CREDIT: Jaladwara

Saat sedang bercanda-canda, salah satu dari kami mengajak untuk main One Night Werewolf. Aku, Fattah, Adinda, Kaysan, dan Ceca ikut main. Yudhis jadi moderator-nya.

Permainan Werewolf ini membuat kami harus berbohong agar tidak “dibunuh” 😀

Susah, namun seru!

dsc_0389
Bermain Werewolf. CREDIT: Jaladwara

Lama-kelamaan Zaky, Andro dan Donna ikut. Karena kami mainnya begitu seru, kakak-kakak pun sampai tertarik untuk ikutan. Pertama kak Inu ikutan main, lalu kak Melly, dan kak Kukuh. Kami main Werewolf lama sekali sampai akhirnya listriknya kembali menyala.
“Kalian mo ditelpon malem ini? Terakhir, lho.” kata kak Melly.
Seperti di Maitan, semua kecuali Yudhis dan Kaysan ingin di telpon.

Semua sudah ditelpon, kecuali aku dan Adinda. Saat kami sedang menunggu, kak Melly berkata kepadaku, “Yla, kata ibumu besok aja ya nelponnya. Biar bisa sama ayahmu. Adinda juga.”
Aku: “Oh.. ya udah, besok aja.”

Kami membereskan kartu-kartunya, dan katanya kak Inu dan kak Melly, akan ada surprise untuk kami. Kami semangat sekali!

Ternyata surprise-nya itu adalah teman sekelompok kami akan ditukar!

Kelompok 1: Andro, Yudhis, Ceca.
Kelompok 2: Zaky, Kaysan, Fattah.
Kelompok 3: Adinda, aku, Donna.

Tadinya aku semangat sekali! Namun setelah mendengar kelompok-kelompoknya, reaksi aku, Adinda, dan Donna sama:
“Kok cewek semuaa??”

Aku lumayan kecewa karena kelompokku cewek semua. Sebelumnya waktu mengerjakan tantangan eksplorasi kan sudah satu kelompok saling cewek, mengapa Big Trip saling cewek juga… -_-’’
Ya sudah lah, mau bagaimana..

Setelah kami diberikan surprise, kami disuruh pulang dan tidur. Setelah mereka semua pulang, baru aku tidur.

Aku tidur dengan perasaan kecewa, namun mencoba untuk tetap positif agar besok bisa beraktifitas dengan lancar.

Perasaanku hari ini:
Senang, karena ke dusun baru yang ternyata orang-orangnya baik dan ramah sekali, ternyata aku menginap bersama kakak-kakak, dan kami main Werewolf bersama kakak-kakak.
Kecewa, karena kelompokku isinya cewek semua..

Laporan keuangan: 

Pengeluaran:

Andong = Rp. 10,000
Bus ke Terminal Jombor = Rp. 15,000
Bus Selo Lor = Rp. 7,000
Mie ayam = Rp. 8,000
Es teh manis = Rp. 3,000

Total pengeluaran: Rp. 32,000

Sisa saldo: Rp. 350,000

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s