EKSPLORASI: Day 6.

Sabtu, 17 Desember 2016.

Jam 6:15 pagi WIB.
Aku terbangun karena mendengar suaranya kak Inu.
“Pagiii…” kata kak Inu. “Pagi..” jawabku dengan suara yang aneh karena baru bangun.
Ah, pagi pertama di Ngingiringan! Aku sangat bersemangat!
Setelah aku bangun, aku mandi dulu, baru aku sarapan.
Aku sarapan nasi dan tempe gembus. Tempe gembus itu adalah ampas tempe yang dibuat agar bisa dimakan juga.

Ditengah-tengah kakak-kakak dan para cewek makan, para cowok berdatangan.
Kami bercanda-canda sebelum kakak-kakak briefing aktifitas pagi ini.

Pagi ini, kami akan Eksplorasi ke Pantai Depok!
Tak lama kemudian, sebuah angkot datang. Tadinya kukira panggilan angkot disini sama saja, tapi ternyata bukan angkot, melainkan angkudes, angkutan desa.

IMG_20161217_074451_HDR.jpg
“Kita sekarang mau ke pantai Depok,” kata kak Kukuh. CREDIT: Jaladwara

Kami naik ke dalam angkudesnya, dan mulai jalan ke Pantai Depok! 

IMG_20161217_080326.jpg
Wefie dulu dong! 😀 CREDIT: Jaladwara

Akhirnya kami sampai di Pantai Depok. Kak Kukuh memberikan kami briefing sebentar sebelum kami memulai wawancara.

DSC_0390.jpg
Briefing dari kak Kukuh. CREDIT: Jaladwara

Akan dibagi tiga bagian topik. Topik pertama, penangkapan. Topik kedua, pelelangan. Dan topik ketiga,
Setiap kelompok akan mewawancara menurut satu topik yang mereka pilih.

Aku langsung memilih penangkapan, karena itu topik yang paling gampang untuk digali, menurutku. Adinda dan Donna juga setuju bahwa penangkapan adalah topik yang pas bagi kami.
Kelompok Yudhis di bagian pelelangan, dan kelompok Zaky di bagian pengelolaan.

Kami mulai berpencar. Aku mengajak Adinda dan Donna untuk pergi ke arah pinggir pantai.

IMG_20161217_083733.jpg
Mencari narasumber kami. CREDIT: Jaladwara

Kami bertemu dengan narasumber pertama.
Namanya mas Yogi. Mas Yogi ini umur 18, dan sudah menjadi nelayan selama 3 tahun.
Mas Yogi mulai menangkap ikan dari jam 5 pagi, dan setiap hari menangkap.
Di satu sampan, ada 2 orang nelayan. Mereka menangkapnya menggunakan jaring dan pancing.

IMG_6536.jpg
Mewawancarai mas Yogi. CREDIT: Jaladwara

Setelah kami wawancara dengan mas Yogi, aku mengajak Adinda dan Donna untuk beristirahat sejenak.

Saat kami sedang istirahat, kak Kukuh memanggil kami untuk melihat yang baru saja datang setelah memancing.

IMG_20161217_084107.jpg
Melihat caranya sampan-sampan itu dibawa ke darat sebelum wawancara. CREDIT: Jaladwara

Kami mewawancarai bapak tersebut, namanya pak Sulis.
Pak Sulis baru saja mendapat ikan patin, ikan pari, dan ikan jambal.
Sehari mereka bisa mendapatkan kira-kira 2 kuintal ikan.
Yang ditakuti saat menangkap ikan adalah:

  1. Ombak
  2. Angin
  3. Hujan
  4. Petir

Setelah kami mewawancara, kami kembali istirahat, baru kami jalan lagi.
Saat kami sedang berjalan-jalan, kami bertemu dengan kelompoknya Zaky. Mereka baru saja selesai wawancara.

IMG_20161217_093818.jpg
CREDIT: Jaladwara

Setelah bertemu dengan kelompoknya Zaky, kak Kukuh menyarankan kami untuk ke pasar ikan di dekat pantai.

Saat sedang menuju ke pasar ikannya, kami bertemu kelompok Yudhis dan kak Melly. Mereka sedang istirahat. Aku, Adinda dan Donna pun jadi ikutan istirahat 😛
Kami bercanda-canda, Andro sempat “menyapu” pasir-pasir di tempat kami istirahat, lalu membuat gambar dan tulisan 😀

IMG_6102.JPG
Untuk Dhifie yang jauh disana 🙂 CREDIT: Yudhistira G.S.
IMG_6106.JPG
Satu gambar lagi yang dibuat oleh Andro. CREDIT: Yudhistira G.S

Saat kami sedang bercanda, kak Melly berkata kepada kami, “Tuh, ikan-ikannya lagi ditimbang tuh. Coba liat gih,” katanya. Kami semua melihat dan bertanya-tanya kepada bapak-bapak dan mas-mas yang sedang menimbang.
Rata-rata para nelayan libur pada saat selasa dan jumat kliwon.
Aku tidak mencatat begitu banyak informasi, karena aku sedang agak kecapean. Aku ingin duduk, namun aku tidak bisa dekat teman-teman. Akhirnya aku memilih untuk berdiri dan mendengarkan saja.
Saat kami sedang bertanya-tanya, kelompoknya Zaky datang.

IMG_20161217_101735_HDR.jpg
Bertanya-tanya kepada salah satu nelayan, yaitu mas Yudha. CREDIT: Jaladwara

Setelah kami semua selesai wawancara dan semuanya lengkap, kami naik ke dalam angkudes untuk ke lokasi berikutnya.

IMG_20161217_110248.jpg
Wefie lagi! 😛 CREDIT: Jaladwara

“Ini jalannya masih panjang, jadi yang mo tidur, tidur aja dulu,” kata kak Inu kepada kami. Memang, beberapa dari kami terlihat mengantuk, makanya kak Inu berkata begitu. Akhirnya kami semua tidur dengan posisi seadanya kecuali Zaky, Andro, dan kak Kukuh.

Satu persatu kami mulai bangun. Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah warung bernama “Warung Mbak Menuk”.

IMG_20161217_112658.jpg
Sampai di warung “Mbak Menuk.” CREDIT: Jaladwara

“Kan nanti kita eksplorasi mie lethek, kita nyobain dulu sebelum eksplorasi,” kata kak Melly.
Wah, kami akan makan siang mie lethek! Aku belum pernah makan mie lethek, namun mendengar mie lethek untuk pertama kalinya, aku tertarik sekali untuk mencobanya!

Hampir kami semua memesan mie lethek rebus, kecuali Zaky, Ceca, dan kak Inu. Zaky dan kak Inu memesan mie lethek goreng, Ceca memesan nasi.
Aku dan beberapa yang lain juga memesan es jeruk, dan pada saat es jeruknya datang, es jeruknya sama sekali bukan seperti es jeruk di Jakarta, yang warnanya oranye sekali dan entah itu bubuk instan atau bukan!
Kata kak Inu, es jeruk disini menggunakan jeruk nipis, makanya warnanya pucat. Rasanya manis dan sedikit lebih asam daripada es jeruk biasa, tapi ENAAAK SEKALII!!
Menurutku es jeruk nipis ini seharusnya ada di Jakarta juga, agar aku dapat merasakan suasana kami di Palbapang setiap kali meminumnya 😀 😛

Saat kami sedang menunggu mie kami, kami bercanda-canda, dan tidak terasa kami sangat berisik 😛
Karena kami sangat berisik, kak Kukuh membuat sebuah lomba. Yang paling bisa diam, menang. Tapi jika ngomong, atau mengeluarkan sebuah bunyi, dia akan membayar mie kami.

Semuanya diam, tapi suasananya malah kayak semuanya lesu. :/
Semuanya menunggu dengan gaya yang sama, badan ke depan bersandar ke meja.

IMG_20161217_114030_HDR.jpg
Begitu lapar dan lemasnya kami 😛 CREDIT: Jaladwara

Cukup lama kami menunggu sebelum akhirnya satu persatu piring mie lethek rebus datang. Zaky dan kak Inu menunggu lebih lama daripada yang lain.
Kami semua makan. “Mari makan!” Kata kami semua sebelum makan.

Ternyata mie lethek itu bentuknya seperti bihun, dan warnanya seperti namanya, lethek. Lethek adalah bahasa jawa untuk kusam, kotor, dan dekil. Tapi tenang saja! Itu hanya namanya! Mie-nya sungguh ENAK!
Mengapa mie-nya kusam, kotor, dan dekil? Itulah yang akan kami cari tahu saat di pabrik mie letheknya!

IMG_6189.JPG
Mie lethek rebus yang sangaattt enaakk! CREDIT: Jaladwara

Setelah kami semua selesai makan, aku selesai membayar, tiba-tiba kak Inu berkata kepada kami, “Itu, ada sisa mie, mo dimakan siapa?”
Katanya kak Inu, itu adalah mie goreng Donna yang tadinya nambah dari Zaky, namun tidak habis. Semuanya tidak ada yang mau memakannya, karena mereka sudah kenyang.
“Ya udah deh, sini, aku aja yang abisin,” kataku. Ya, aku memang terkenal kurus, namun aku juga makannya banyak 😛
Lagipula, bonus karena aku dapat mencoba mie lethek goreng 😉

“Tengkiyu la,” kata Zaky.
Mie-nya tidak terlalu banyak, mungkin sekitar sepertiga dari satu porsi.
Namun yang menjadi kesulitan adalah…

Karena semuanya sudah selesai makan, dan tinggal jalan, otomatis aku harus makan dengan cepat supaya yang lain tidak menunggu terlalu lama. Namun, disini kesulitannya! Saat aku sedang makan, Ceca, Andro, dan beberapa yang lain meledekku! Aku jadi susah untuk makan, karena aku ikut tertawa, dan itu menyebabkan aku susah untuk mengunyah dan menelan -_-”

Akhirnya mienya habis. Perutku sangaaatttt kenyang, bahkan mau berdiri saja susahnya setengah mati! Apalagi ditambah mereka dengan lelucon-leluconnya yang membuat aku ikutan tertawa.

Kami semua naik ke dalam angkudes dan mulai jalan lagi.
Ternyata pabrik mie letheknya tidak terlalu jauh dari warung “Mbak Menuk”.
Kami sampai di pabriknya. Kak Kukuh memberikan briefing lagi sebelum kami memulai wawancara.
Di pabrik mie lethek ini, mienya terkenal karena pak SBY suka sekali memesan mie ini waktu beliau masih jadi presiden.

IMG_20161217_124739_HDR.jpg
Briefing lagi dari kak Kukuh. CREDIT: Jaladwara

Kali ini, akan dibagi 3 topik lagi, seperti di pantai Depok. Namun, di setiap topik, harus ada perwakilan dari setiap kelompok.
Topik pertama, bahan-bahan mie lethek. Topik kedua, proses pengolahan. Topik ketiga, distribusi dan pemasaran.
Dari kelompokku, Donna di topik bahan-bahan mie lethek.
Tadinya aku memilih topik proses dan pengolahan, namun karena Adinda juga memilih itu, akhirnya aku mengalah untuk ke topik distribusi dan pemasaran.

Aku di topik distribusi dan pemasaran bersama Andro dari kelompok Yudhis dan Fattah dari kelompok Zaky.
Kami bingung untuk mewawancarai siapa, lalu kak Inu bilang bahwa sebaiknya wawancara ibu yang dulunya mempunyai pabrik mie lethek ini.
Karema kelompok topik bahan-bahan mie lethek sedang mewawancarai ibu itu, aku, Andro, dan Fattah menunggu.
Saat akhirnya kelompok topik bahan-bahan mie lethek sudah selesai mewawancara, kami bersiap untuk mewawancara. Tiba-tiba kak Kukuh memanggil kami bertiga.
“Nih, coba kalian wawancara si mbok ini,” kata kak Kukuh. Akhirnya kami bertiga mewawancara si mbok. Mbok ini sedang menyortir mie lethek. (Mbok artinya adalah nenek dalam bahasa jawa.)

DSC_0553.jpg
Mewawancarai si mbok. CREDIT: Jaladwara

Mengapa mie lethek warnanya kusam? Ternyata, mienya kusam karena tepung tapioka/telo dan gaplek.
Tepung tapioka/telo diambil dari Lampung, tepung gaplek dari Wonosobo.
Mie sortiran ini adalah mie lethek yang kurang sempurna/bagus untuk dijual, sisanya ini untuk dijual ke pasar, bisa juga untuk makanan sapi.
1kg mie sortiran untuk kita makan harganya Rp, 7.000, untuk sapi harganya Rp, 2.500
Untuk mie lethek yang bagus, per pak harganya Rp, 70.000, dan diambil menggunakan bakulan ke Prawirotaman, Njodok, Bringharjo, dan Jakarta.

Setelah kami bertiga mewawancarai mbok, kami masuk ke lebih dalam pabrik. Kami menemukan alat penggiling adonan mie lethek!
Alat ini digunakan dengan sapi. Jadi, saat sapinya sedang menarik alatnya, adonannya akan tergiling batunya.
Sayangnya, mereka sedang tidak menggiling, jadi kami tidak tahu seperti apa kerjanya.
Pertamanya aku lihat Ceca, Andro dan Fattah sedang mencoba mendorong alatnya. Lama-kelamaan aku jadi ikutan 😀
Donna juga ikut 😀
Alatnya lumayan berat, bahkan sudah ada 5 orang yang mendorongnya. :O

IMG_20161217_125711.jpg
Doroongg! CREDIT: Jaladwara

Setelah kami mencoba mendorong alat penggilingnya, kami bertemu dengan pemilik pabrik mie lethek ini. Namanya pak Feri.

IMG_20161217_140404.jpg
Mendengarkan ceritanya pak Feri. CREDIT: Jaladwara

Seingatku, pak Feri sempat bercerita tentang mie lethek yang beliau inovasi agar menyerupai Indomie. Berhasil, namun tak banyak yang beli.

Saat pak Feri sedang menjelaskan, tiba-tiba badanku berasa sangat capek, dan lemas. Aku ingin tetap mendengarkan, namun badanku berkata tidak.

Akhirnya aku duduk di sebuah meja besar yang memang banyak orang duduk disitu. Mejanya cukup besar untuk badanku tiduran. Fattah dan Ceca ikut menemaniku.
Aku ternyata tertidur. Saat aku bangun, aku lihat yang lain masih mendengarkan kepada pak Feri.
Akhirnya aku memaksakan untuk berdiri dan mendengarkan. Fokusku bubar, dan aku lalai, aku seharusnya mencatat cerita-cerita pak Feri.

Akhirnya tiba saatnya untuk kami kembali ke dusun Ngingiringan.
Sebelum kami pergi, kami berfoto dengan pak Feri dan pekerja-pekerja yang sudah sesepuh.

IMG_20161217_150207.jpg
CREDIT: Jaladwara

Kami naik ke dalam angkudes, jalan kembali ke dusun Ngingiringan.

Kami akhirnya sampai di basecamp kami. Semuanya turun, lalu kakak-kakak membayar angkudesnya sementara kami duduk di teras basecamp.
Saat kami sedang bercanda, kak Melly mengingatkan kepada kami, bahwa nanti kami akan ke Gereja Ganjuran.
“Kalian siap-siap ke rumah masing-masing, nanti kumpul lagi jam 4:30 disini,” kata kak Melly.
Adinda, Zaky, Kaysan, Yudhis, dan Fattah akan ikut ke Gereja Ganjuran. Ceca tidak ikut, dia ingin tetap di basecamp bersama kak Melly.
“Kita pake baju apa?” tanya semua anak yang ikut ke Gereja Ganjuran. Karena hampir semuanya tidak membawa baju bagus khusus, aku bilang sebaiknya pakai celana panjang.

Semuanya pulang ke rumah masing-masing. “Wah, asik nih, temen-temen ikut. Aku bisa mengajak mereka berkeliling Gereja Ganjuran,” pikirku.
Aku mandi, lalu aku dan Adinda menggambar di tote bag.
Saat aku dan Adinda sedang menggambar, Ceca, Zaky, Yudhis, dan Fattah datang.
Kami lalu mengerjakan logbook bersama-sama.
Saat kami sedang mengerjakan logbook, Andro dan Kaysan kok lama sekali. Kak Melly menyuruh Ceca untuk menjemput mereka berdua.
Akhirnya, Andro dan Kaysan datang juga.
Kami disuruh untuk mengerjakan catatan jurnal sebentar sebelum kami ke Gereja Ganjuran.

DSC_0579.jpg
Berkumpul di basecamp sebelum kami jalan ke Ganjuran. CREDIT: Jaladwara

Kami selesai menulis, lalu kami bersiap-siap untuk pergi. Saat kami sedang mengambil sepeda, ternyata gerimis. Akhirnya kami memakai jas hujan kami. Aku dipinjamkan jas hujannya kak Melly, karena ternyata kak Melly tidak ikut. Mungkin kak Melly menjaga Ceca agar Ceca tidak nonton TV 😛

Saat kami hendak pergi, bu Cicil datang. Kami langsung mengikuti bu Cicil ke Gereja Ganjuran.
Kami sampai di Gereja Ganjuran. Kami memarkirkan sepeda kami, tidak di dalam Gereja Ganjuran, tetapi di parkiran khusus sepeda motor.
Saat kami sedang mengatur sepeda kami, kak Kukuh menyuruh aku, Andro, dan Donna untuk duluan dan mengikut bu Cicil.
Kami masuk ke dalam Gereja, dan duduk di dekat koor.
Kemarin itu bu Cicil bilang, bahwa pak Cicil di misa ini bertugas menjadi dirigen koor.

Misa di Ganjuran ini berbeda daripada misa di gereja dekat rumahku. Disini, alat musiknya beragam sekali, alat musik jawa. Kalau kebanyakan gereja di Jakarta, alat musiknya hanya satu, yaitu keyboard.
Pakaian liturgisnya juga berbeda daripada di gereja dekat rumahku. Di Ganjuran, mereka memakai baju khas jawa yang menurutku sangat unik! 😀

Sebelum misanya dimulai, kami melihat perarakan salib AYD itu.

IMG_20161217_183537.jpg
Perarakan salib AYD. Aku, Andro dan Donna tidak ada disini karena duduk di dalam gereja. CREDIT: Jaladwara

Selesai misa, kami mencari kak Kukuh, kak Inu, dan yang lain.
Ternyata mereka semua sudah pulang.. Agak sedih, karena aku tidak bisa mengajak mereka berkeliling. Memang sih, misanya lama, jadi wajar jika mereka pulang duluan.

Aku mengajak Andro dan Donna mengambil air suci.
Disana kami mengambil air suci, lalu kami mendoakan air suci itu.
Selesai berdoa, kami pulang bersama bu Cicil.
Sesampainya kami di basecamp, kak Kukuh, Adinda, Zaky, Kaysan, Yudhis, dan Fattah sedang menonton TV bersama pak Gun. Ternyata mereka sedang menonton bola. Indonesia lawan Thailand. Aku, Andro dan Donna ikutan menonton.

IMG_20161217_202857.jpg
Menonton bersama pak Gun. CREDIT: Jaladwara

Saat aku sedang menonton, aku, Andro dan Donna disuruh untuk makan malam dulu sebelum berkegiatan ke rumahnya bu Cicil.

Setelah kami bertiga selesai makan, kami lanjut menonton lagi. Thailand unggul 2-0.
“Ah, udah ah, Indonesia kalah nih,” kata yang lain sambil bangkit berdiri. Kami berterima kasih kepada pak Gun, lalu ke ruang tamu basecamp.
“Iya bu.. Udah ya? Oke sip, kita kesana. Makasih ya bu..” kudengar kak Melly sedang berbicara kepada seseorang di teleponnya. Ternyata itu bu Cicil. Bu Cicil sudah siap, dan mengabari kami untuk kesana sekarang.

Kami semua mengambil sepeda kami, lalu jalan ke rumahnya bu Cicil.
Kami sampai, dan kulihat bu Cicil masih rapi, seperti tadi saat misa.
Kami duduk. Malam ini kami akan dijelaskan tentang tempe oleh bu Cicil.

IMG_20161217_210539.jpg
Belajar dari bu Cicil. CREDIT: Jaladwara

Bu Cicil punya merek dagang, namanya Tjah Dampit.
Bu Cicil menjual berbagai tempe, kombucha rosela, kombucha bunga telang, dan berbagai makanan/minuman lagi dengan merek Tjah Dampit.

Bu Cicil mempunyai beragam-ragam tempe. Ada tempe biji kecipir, kacang hijau, biji koro kecil, biji koro pedang, kacang tanah, kedelai hitam dan kuning.

IMG_20161217_221347.jpg
Dari atas-bawah: kedelai hitam, kedelai kuning, biji koro pedang, kacang tanah, biji koro kecil, kacang ijo. CREDIT: Jaladwara

Beberapa dari kedelai-kedelai dan biji-biji ini memerlukan proses khusus.
Seperti biji kecipir, saat direndam, harus lebih lama karena vitamin A-nya terlalu tinggi, jadi direndam lebih lama agar vitamin A-nya dikurangi. Dan biji koro kecil, yang mengandung racun jika mentah, jadi harus direndam menggunakan air dan kapur dapur dulu sebelum dimasak.

Bu Cicil selalu menggunakan kedelai lokal. Kalau memang sudah kepepet, terpaksa menggunakan kedelai impor dari Amerika.
Menurut bu Cicil, tempe dengan bungkus daun pisang lebih enak daripada bungkus plastik, karena membuat tempenya lebih wangi.
Ragi untuk kedelainya bukan ragi bubuk biasa, namun memakai daun laru.
Kata bu Cicil, sisa air rendaman kedelai bisa untuk pupuk dan minum untuk kambing.

Kami selesai, dan kami semua sudah mengantuk. “Yla, Adinda, ini mo jadi ditelpon atau besok aja?” tanya kak Melly kepadaku dan Adinda.
“Besok aja deh.. Ngantuk banget…” kataku. Adinda juga setuju denganku.
“Ok. Besok jam 8 langsung kumpul di rumahnya bu Cicil ya. Bukan di basecamp,” kata kak Melly, mengingatkan.
Kami pun pulang ke rumah masing-masing dan tidur.

Perasaanku hari ini:
Senang sekali, karena ke pantai Depok, mencoba mie lethek, ke Ganjuran, mengikuti misanya yang unik, dan mengambil air suci! 😀

Laporan keuangan:

Pengeluaran:

Minuman di pantai Depok = Rp. 4,000
Mie lethek = Rp. 6,000
Es jeruk = Rp. 2,500
Onde-onde = Rp. 1,000 x 2 = Rp. 2,000
Kolekte gereja = Rp. 7,000

Total pengeluaran: Rp. 21,000

Sisa saldo: Rp. 329,000

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s