EKSPLORASI: Day 7.

Minggu, 18 Desember 2016.

Hari kedua di Ngingiringan!
Tak berasa besok akan pulang.. Meninggalkan orang-orang yang kami temui dan belajar dari mereka, meninggalkan dusun Ngingiringan, meninggalkan Jogja..
Memang, aku memang kangen dengan beberapa hal di Jakarta, namun aku masih ingin disini…

Setelah aku bangun tidur, aku cuci muka, lalu aku sarapan.
Pagi ini aku makan nasi, dengan lauk tahu-tempe goreng. Saat aku sedang makan, kak Melly menyuruhku dan Adinda untuk mencoba sayur daun pepaya karena cuma kami berdua yang tidak makan sayur daun pepayanya.
“Tapi kayaknya pedes, kak..” jawabku dan Adinda. Kami berdua memang tidak suka makan pedas.
“Nggak kok, coba dulu.” Jawab kak Melly.
Aku mencobanya. Aku belum pernah mencoba sayur daun pepaya.
Agak pedas, namun aku masih bisa makan sayurnya. Aku tidak menyangka bahwa daun pepaya akan seenak ini!

Setelah aku sarapan, aku menulis kegiatan kemarin malam di logbookku. Adinda dan Donna juga ikutan menulis.
Saat aku, Adinda, dan Donna sedang menulis, para cowok-cowok berdatangan. “Lah, kok pada sini? Kan kumpul di rumahnya bu Ciciiilll…. Nanti jam delapannn…” kata kak Melly.
“Eh? Iya ya? Lupa :p,” jawab Yudhis dan yang lain. Mereka sepertinya sudah kebiasaan ke basecamp :V
Kami semua akhirnya bercanda-canda di basecamp sambil menunggu jam 8.

“Eh, udah jam 8. Gih, pada ke rumah bu Cicil,” kata kak Melly.
Kami semua mengambil sepeda kami dan ke rumahnya bu Cicil.
Pagi ini, kami masih belajar tempe bersama bu Cicil. Kami akan melanjutkan pelajaran kemarin.
Kami semua sampai di rumahnya bu Cicil. Bu Cicil menyambut kami, juga Noel 😀
“Tataaa…” kata yang keluar pertama kali dari mulut Noel saat melihat kami. Tata, maksudnya kakak 😀
Kami semua memarkirkan sepeda kami, lalu duduk.

Kami akan mencoba mencuci kedelai untuk tempe di pagi ini.

Kata bu Cicil, saat sedang membuat tempe, mood kami tidak boleh sedih, marah, dan galau (bu Cicil ternyata gaul! :D), karena nanti akan mempengaruhi hasil dan rasa tempenya.
Kami ke dapurnya bu Cicil, dan mendapati bahwa bu Cicil sudah merebus kedelai untuk kami. Kedelai yang kami gunakan adalah kedelai hitam.
Setelah kedelainya sudah selesai direbus, bu Cicil meniriskan kedelainya. Kedelainya ditaruh di sebuah bakul, lalu bu Cicil membilas kedelainya dengan air keran.

DSC_0582.jpg
Bu Cicil sedang membilas. CREDIT: Jaladwara

Saat bu Cicil sudah membilas kedelainya, bu Cicil berkata, “Nah, proses berikutnya diinjak-injak supaya kulit ari-ari kedelainya bisa lepas.”

 

Diinjak? Dengan kaki kami? Ke kedelainya? Wah, pasti seru sekali! Mungkin agak jorok tapi pasti seru sekali!
“Hayo, yang mau nginjek cuci kaki dulu!” Kata kak Inu.
Kami semua berebutan (dengan cara yang baik) untuk mencuci kaki duluan agar bisa langsung menginjakkan kaki kami di kedelainya.

Kami diajari cara menginjak yang benar, agar kulit ari-ari kedelainya lepas.
Kaysan menginjak duluan, lalu Kaysan, Donna, baru aku.
Saat aku menginjakkan kakiku, ini reaksi pertamaku: Tersenyum lebar. Menginjakkan kaki di kedelainya berasa seperti terapi! Apalagi kedelainya masih agak hangat, jadi tambah enak!

img_6314
Rasanya enak! 😀 CREDIT: Jaladwara

Saat aku sedang menginjak-injak, bu Cicil berkata, “Nginjek-injek kedelai juga bisa bikin kaki kita tambah halus lho.”
“Oh yaa???” Kata kami serentak. Kami semua langsung memegang kaki kami. Benar, terasa lebih halus daripada sebelumnya!
Setelah aku menginjak, Adinda, Ceca, Andro, Zaky, dan Yudhis ikut menginjak.

Setelah kami semua menginjak, kedelainya disaring di tempat yang terpisah agar kulit ari-ari dan kedelainya terpisah. Kata bu Cicil, tak apa-apa ada beberapa kulit ari-ari yang tidak tersaring. Itu untuk bukti kepada pelanggan bahwa bu Cicil memang menggunakan kedelai hitam, bukan kedelai kuning tapi ngakunya kedelai hitam.

DSC_0682.jpg
Membantu bu Cicil menyaring. CREDIT: Jaladwara

Oh ya, tempat untuk kedelainya juga tidak boleh bekas pakai, misalnya bekas pakai untuk makanan berminyak, tidak boleh karena ada minyak yang akan menganggu proses kedelainya.
Setelah disaring, berikutnya kedelai didiamkan selama 6-10 jam.

Setelah kami menyaring, kami duduk-duduk lagi dulu di teras sambil berdiskusi apa yang akan kami lakukan berikutnya.
Berikutnya, kami disuruh seperti waktu di Maitan, mencari home industry disini.
Kami diberi beberapa pilihan dari bu Cicil. Ada madu mongso, ada tahu, ada pabrik roti.
Kak Melly juga berkata bahwa kami boleh mewawancarai bu Cicil dan pak Cicil.

Aku, Adinda, dan Donna setuju bahwa kami akan ke pabrik roti dahulu. Kami pun jalan.

DSC_0720.jpg
Jalan ke pabrik roti yang bu Cicil bilang. CREDIT: Jaladwara

Kami kebingungan mencari pabrik rotinya, namun kami ketemu toko roti yang namanya terdengar sama dengan yang dikatakan bu Cicil, namanya toko roti Taruban. Mungkin ini yang dimaksud bu Cicil.

Kami bertanya kepada seorang mbak-mbak.
“Disini ada pabrik roti, ya mbak?” tanyaku. “Ada. Tuh, di depan,” jawab si mbak.
“Boleh liat nggak ya?” tanyaku lagi. “Waduh, mm.. Coba saya tanya ibunya dulu ya.” jawab si mbak. Lalu si mbak ke pabrik di seberang toko roti.
Beberapa menit kemudian, mbak itu kembali. “Nggak boleh, ibunya lagi tidur. Saya gak bisa kasih ijin klo ibunya tidur..” jawab mbak itu. Ah, tidak bisa.. Kami berterima kasih dan jalan.

Kami bertiga mampir ke rumah bu Cicil lagi dulu.
“Kenapa? Udah ke pabrik rotinya?” tanya bu Cicil. “Nggak boleh liat, bu.. Ibunya lagi tidur katanya…” jawabku. “Oh.. iya gak boleh kalo ibunya tidur.. Coba ke itu, apa, pabrik tahu?” kata bu Cicil.
Kami bertiga setuju untuk ke pabrik tahu. Semoga belum ada kelompok lain.
Kami sempat tersesat, dan untung, kebetulan (atau bukan kebetulan? :/) kak Inu dibelakang kami. Akhirnya kami sampai berkat sedikit petunjuk dari kak Inu. Kak Kukuh juga ke pabrik tahu ini.

Kami bertemu dengan pak Mugi dan bu Mudiem.
Pak Mugi sudah menjalankan bisnis tahu ini sejak 1981, dan tahun 1983 mulai berkembang.
Tidak seperti bu Cuci yang menggunakan kedelai lokal, pak Mugi menggunakan kedelai impor. Kalau memang ada stok kedelai lokal, baru dipakai.
Prosesnya setelah dicuci langsung digiling menggunakan mesin dinamo. Sebelum ada mesin penggiling dinamo, pak Mugi menggunakan batu untuk menggilingnya.
Setelah digiling, kedelainya ditaruh di sebuah tempat dimana kedelainya akan direbus. Bahan bakar untuk apinya adalah ampas kayu, bukan kayunya. Kata pak Mugi, ampas kayu lebih murah daripada kayu biasa, makanya beliau pilih ampas kayu.

Setelah direbus, kedelainya disaring menggunakan kain kafan.
Sari kedelainya yang diambil untuk menjadi tahu. Ampasnya bisa dipakai untuk tahu gembus, dan makanan ternak.
Air kecutannya, yaitu air bekas rebusannya, bisa untuk bikin Nata de Coco.
Setelah disaring, sari tahunya diaduk sambil dipanaskan agar mengental dan bisa di cetak kotak-kotak.
Aku dan Adinda mencoba mengaduknya.

IMG_20161218_104432.jpg
Mengaduk. CREDIT: Jaladwara

Setelah sudah mengental, kedelainya ditaruh di sebuah kayu berbentuk kotak dengan kain diatasnya, lalu ditutup dengan tutup yang terbuat dari kayu dan ditindih batu besar.
Proses ini gunanya untuk mengeluarkan air-air yang tidak perlu.
Setelah ditindih, sudah jadi tahu! Proses selanjutnya adalah memotong tahunya menjadi kecil-kecil.
Setelah itu, ada yang langsung dijual mentah, ada juga yang digoreng dulu.
Aku, Adinda dan Donna membeli tahu mentahnya seharga Rp. 5,000, lalu berpamitan dengan pak Mugi dan bu Mudiem.

Setelah kami wawancara, kami bertiga memutuskan utuk mewawancarai pak/bu Cicil.
Kami datang ke rumahnya bu Cicil tanpa kak Inu dan kak Kukuh karena mereka berdua akan tetap disana menunggu yang lain.
Kami disambut oleh pak Cicil. Baiklah, kami akan mewawancarai pak Cicil.
“Ada apa?” Tanya pak Cicil menyambut kami. “Mau wawancara, pak,” jawab kami bertiga.

Kami pertama bertanya soal kebunnya pak dan bu Cicil.
Pak Cicil punya kebun ini dari tahun 1999. Pak Cicil mempunyai pohon pisang kapok dan pisang ambon. Pak Cicil jarang punya sayur, kalaupun punya, itu hanya tomat.
Hasil kebunnya pak dan bu Cicil dijual ke pasar organik, atau disimpan untuk pribadi.
Pak Cicil ternyata juga punya sarang lebah untuk panen madu!
Madunya dipanen 5 bulan sekali, dan biasanya dipakai untuk pribadi.
Bu Cicil suka membuat minuman atau sirup dari bunga telang hasil kebunnya. Musim kemarau adalah waktu yang tepat untuk memanen bunga telang.
Kata bu Cicil, bunga telang juga bisa untuk pewarna makanan alami!

Seperti misalnya, saat sedang memasak nasi, saat berasnya sudah ada di magic jar, taruhlah beberapa kelopak bunga kedalam airnya. Hasilnya nanti nasinya akan menjadi biru! 😀
Bu Cicil menjual bunga telangnya juga, satu bungkus kira-kira 15 kelopak bunga telang, namun aku tidak catat harganya karena sudah kaget harganya mahal, padahal tadinya aku ingin beli.. 😦
Untuk sirup, ambil sekitar 10-15 kelopak bunga telang, rebus, lalu masukkan bumbu. Jadi deh!

Setelah mengobrol tentang bunga telang, kami mengobrol tentang sorgum. Sorgum bisa untuk makanan ternak, bisa jadi nasi sorgum, dan roti sorgum. Sorgum mengandung zat tianin.
Sorgum ada 3 macam, sorgum merah, putih, dan hitam. Sorgum merah dan putih masih ada walaupun sedikit, namun sorgum hitam sudah punah.

Kami juga disuguhi selai nanas dan markisa buatan bu Cicil. Kami bertiga mencoleknya, lalu mencobanya. Ternyata….
SELAINYA SUPER DUPER ENAAAKKKKK BANGEETT!!!
“Berasa kayak isian nastar yaa,” kataku kepada bu Cicil sambil menjilat selai yang ada di jariku. Aku tadinya ingin membeli selainya, namun ternyata bu Cicil hanya membuat untuk sendiri. 😥

Saat kami sedang mengobrol, Ceca, Andro dan Yudhis datang. Mereka ternyata ingin numpang istirahat. Kak Kukuh juga datang.
Saat kak Kukuh datang, kak Kukuh berkata kepada aku, Adinda, dan Donna. “Udah wawancaranya? Sekarang mau kemana? Ke madu mongso gih,” kata kak Kukuh.
“Iya deh, nanti,” jawabku.
Aku masih ingin beristirahat (karena ada Andro, Ceca dan Yudhis :p), Adinda dan Donna juga masih ingin beristirahat. Kak Kukuh menemani kami berenam. Kami sempat tidur-tiduran di tiker, karena cuacanya begitu puanas dan entah kenapa membuat kami rasanya mengantuk.

Saat kami sedang beristirahat, kak Kukuh memberi tahu kami bahwa kak Kukuh baru saja melihat banyak bangau di sebuah sawah dekat pak Gun (tuan rumah kakak-kakak dan para cewek) bekerja. Kami pun kesana diantar kak Kukuh.
Saat kami sampai di sawahnya, ternyata bangaunya tidak ada. “Wuah, kak Kukuh hoax niihhh….” Begitu candaan kami kepada kak Kukuh 😀
“Ya udah deh, kita ke nasi bakar aja yuk,” kata kak Kukuh sambil melihat hpnya.
Kami jalan bersama-sama ke warung “Nasi Bakar Organik”. Ditengah-tengah jalan, kami berenam (aku, Adinda, Donna, Ceca, Yudhis, Andro) bertemu dengan Zaky, Kaysan, dan Fattah.
Kami pun sampai di Nasi Bakar Organik. Cuacanya terik sekali… Enaknya minum yang dingin-dingin…
Kami memilih sebuah meja dan duduk. Karena satu meja tidak cukup untuk kami ber12, dua meja kami gabungkan jadi satu.

Kami memesan nasi bakarnya. Beberapa dari kami pesan nasi bakar ayam kampung, dan ada juga yang memesan nasi bakar
Kami juga memesan minuman. Aku ingin sekali memesan es jeruk atau es teh manis, namun kakak-kakak melarang kami yang sedang sakit untuk meminum yang dingin-dingin. Akhirnya aku memesan teh manis hangat 😦

DSC_0839.jpg
Menunggu makanan kami.. CREDIT: Jaladwara

Saat kami sedang menunggu makanan kami, kami ditanya oleh kakak-kakak.
“Kalian kangen keluarga gak? Atau mungkin kangen apa, gitu?” tanya kak Melly.
Kami menjawab ini:
“Aku kangen kameraku!” (Kaysan)
“Kangen dengerin musiiiik” (Yudhis)
“Iya, aku juga kangen musik…sedikit!” (Aku, Fattah)
“Aku kangen mandi air panas..” (Adinda)
“Aku kangen toilet di rumah!” (Andro)
“Aku gak kangen apa-apa…eh aku kangen keponakanku deh!” (Zaky)
“Aku gak kangen apa-apa…” (Ceca)
“Aku juga gak kangen apa-apa…” (Donna)
(dari Faceboook kakak-kakak Jaladwara: link)

“Wah, kayaknya pada gak kangen keluarga ya? Oke deh, kita punya tantangan baru buat kalian!” Kata kakak-kakak.
“Apa kak???” tanya kami semua penasaran.
“Eksplorasi diperpanjang satu minggu!!” jawab kakak-kakak.
“Hahh?? Beneran???“ kata kami semua. “Ya boleh, kalo ada duitnya :P” jawab kak Melly.
“Ah, gapapa, kita nanti minta orang tua kita transfer! Kalo gak, kita suruh Andro kerja aja!” canda kami.

Kami banyak bercanda-canda sebelum akhirnya makanan dan minumannya datang.
Nasi bakarnya sungguh enak! Rasa dan aroma bakarannya benar-benar terasa! Lumayan pedas, namun justru itu yang membuat nasi bakarnya enak!

DSC_0841.jpg
Makan! CREDIT: Jaladwara

Setelah kami semua makan, kakak-kakak mengajak diskusi lagi.

Kali ini kami diskusi tentang kemana saja kami wawancara, hasil wawancara kami, dan apa yang menarik dari hasil wawancara kami.
Yang menarik bagiku adalah sorgum yang warnanya beda-beda, roti sorgum, dan bunga telang yang bisa jadi pewarna makanan alami.
Setelah kami semua sudah bercerita, kami ditanya. Dengan semua hasil foto-foto dari kakak-kakak fasilitator, apa yang akan kami lakukan dengan foto itu?
Inilah jawaban kami:
“Kalo aku sih pingin buat scrapbook gitu.” (Aku)
“Kalo aku mo dibuat kolase.” (Ceca, Yudhis)
“Yang pasti pingin dibuat WPAP.” (Zaky)
“Buat selingan videoku juga sih. Jadi ada foto dan video di videoku.” (Ceca)

“Trus, ada proyek pribadi gak? Kayak misalnya, artikel?” tanya kakak-kakak.
“Yang pasti aku kepingin bikin komik. Udah disuruh eyang soalnya :/” (Aku)
“Aku kepingin bikin artikel.” (Kaysan, Donna)
“Mungkin infografis ketela.” (Adinda)
“Bikin video perjalanan kita.” (Ceca)

“Gak bikin animasi, La?” tanya Ceca kepadaku. Ah, mungkin bisa bikin animasi juga ya. Tetapi aku belum bisa menjamin bahwa aku akan membuat banyak animasi. Zaky juga berniat untuk membuat animasi. Collab aja kali ya 😛
“Deadlinenya kira-kira kapan buat masing-masing?” tanya kakak-kakak lagi.
Ada yang menjawab pertengahan januari sampai akhir februari.

Setelah kami diskusi, kami membayar, lalu jalan ke rumahnya bu Cicil lagi untuk melanjutkan proses kedelai tadi pagi.
Saat kami sampai di rumahnya bu Cicil, tiba-tiba kak Inu memanggil Kaysan, Andro, Fattah dan Ceca. Kulihat mukanya kak Inu marah. Belum pernah kulihat mukanya kak Inu semarah itu..

“Itu pada kenapa?” tanyaku kepada Yudhis dan Zaky.
“Tadi pada ngebut-ngebutan. Jadi tadi di jalan, si Ceca kan kedepan buat ngambil video, nah si Andro ngira lagi balapan, jadinya si Andro ikutan ngebut. Eh Fattah ikutan ngebut.. Pas di perempatan, ada bapak-bapak jalan dari sebelah kirinya Fattah, si Fattah main bablas aja. Untung bapaknya ikut ngikut Fattah, jadi gak tabrakan.. Dan untung gue masuk ke kubu aman D:” jelas Zaky.
Oh, jadi karena itu…
Kubu aman adalah aku, Yudhis, Adinda, dan Donna yang jalan biasa-biasa saja.

Bu Cicil dan Noel seperti biasa menyambut kami dengan sangat ramah 🙂
Setelah semuanya sudah baik, kami dipersilahkan duduk oleh bu Cicil.
Kedelainya sudah siap di sebuah tempat dan beberapa daun pisang sudah siap untuk kami bungkus kedelainya.

DSC_0863.jpg
Mengaduk kedelai agar kedelainya dingin. CREDIT: Jaladwara

Bu Cicil memulai dengan menggosokkan daun larunya ke kedelainya.

DSC_0884.jpg
Menggosokkan daun larunya. CREDIT: Jaladwara

Kata bu Cicil, untuk membuat ragi di daunnya, ini caranya:

  1. Taruhlah sebuah daun pisang di lapisan paling pertama
  2. Taruh daun larunya diatas daun pisangnya sebagai lapisan kedua
  3. Diatasnya, taruh daun pisang yang sudah di robek kecil-kecil di bagian tengahnya
  4. Taruh kedelai yang akan menjadi tempenya, dan ratakan agar tipis seperti mendoan
  5. Bisa ditaruh daun pisang lalu kedelai lagi, atau langsung tutup dengan daun pisang.

Setelah menggosok daun larunya, bu Cicil menunjukkan kepada kami cara membungkusnya. Ada dua cara.

Memakai daun pisang:

  1. Ambil kedelainya menggunakan sebuah alat pengukur (bu Cicil menggunakan bel sepeda)
  2. Ambil 2 daun pisang. Pastikan daun yang paling atas tengahnya robek sedikit untuk membuat ventilasi
  3. Taruh kedelainya di atas 2 daun pisang, lalu ratakan, tetapi jangan sampai pinggir daun
  4. Lipat kanan dan kirinya, lalu atas dan bawahnya
  5. Ikat dengan tali bambu yang sudah dipotong tipis-tipis
  6. Selesai

Memakai plastik:

  1. Ambil sebuah kantong plastik yang ada zipper-nya
  2. Ambil kedelainya menggunakan sebuah alat pengukur (bu Cicil menggunakan bel sepeda)
  3. Masukkan kedelainya ke dalam kantong plastik, dan ratakan
  4. Pastikan kantongnya kedap, lalu tutup
  5. Ambil sebuah tusuk gigi
  6. Buatlah 6 bolongan kecil, 3 baris dan 3 kolom, menggunakan tusuk gigi
  7. Selesai
DSC_0918.jpg
Mari membungkus! 😀 CREDIT: Jaladwara

Saat kami sedang membungkus, beberapa dari kami lomba banyak-banyakan tempe siapa.
“Nih, gue udah 4 bungkus!” “Aku 6 bungkus” “Ah! Gue harus kebih banyak!” kudengar beberapa kata dari mereka, khususnya Andro, Adinda dan Zaky karena mereka yang berlomba-lomba.
Saat kami sedang membungkus, Noel juga bersikeras untuk membungkus juga (lucunya :D)  

Aku akhirnya membantu Noel membungkus tempenya daripada membungkus punyaku. Daripada nanti Noel kesal lalu nangis, pikirku. Lumayan capek membungkus tempenya, entah kenapa. Mungkin capek emosi, gara-gara Noel yang ingin ini-itu 😛 *biasa lah, anak kecil, gapapa kok 🙂
Aku tadinya hanya membuat 2 bungkus, satu yang memakai daun pisang, satu yang memakai plastik. Namun karena ternyata kami akan bawa pulang, aku putuskan untuk membuat tempe untuk keluargaku. Aku akhirnya membuat 3 tempe yang dibungkus daun pisang, dan 1 tempe yang dibungkus plastik. Keluargaku ada 4, jadi 1 tempe untuk masing-masing.

Setelah kami semua selesai membungkus, kami disuruh pulang ke rumah masing-masing. Kami diberi kantong plastik untuk membawa tempenya.
Sebelum kami jalan, kakak-kakak fasilitator menyuruh kami untuk membereskan hasil berantakan kami :p
Kami melipat tiker, dan menyapu.

IMG_20161218_173405.jpg
Melipat tikernya. CREDIT: Jaladwara

Saat aku sudah nganggur, aku melihat Yudhis sedang menyapu. “Sini Dhis, aku yang nyapu,” kataku. Yudhis memberikan sapunya sambil berterima kasih.

Sebelum kami jalan pulang, kami diberi sebuah pelajaran oleh bu Cicil.
“Nanti kalau kalian ngelewatin si mbah, jangan naik di atas sepeda ya. Itu nggak sopan buat si mbah. Turun, tuntun sepedanya.” kata bu Cicil. “Ooo, oke bu,” jawab kami semua.
“Nanti habis makan malem langsung ke basecamp ya,” kak Melly mengingatkan.

Kami pun jalan, dan kami semua langsung melakukan apa yang dibilang bu Cicil. Kami turun dari sepeda, dan bilang “nuwun sewu” saat melewati mbah.   
Sesampainya aku, Adinda, dan Donna di rumah kami, kami langsung merebahkan diri di ruang tamu. Adinda dan aku lanjut makan cemilan bekas tadi pagi yang disajikan oleh tuan rumah. Tak lama kemudian, kakak-kakak datang.
Aku dan Adinda mengobrol dengan kak Inu dan kak Melly sambil memakan cemilan.
Aku mencoba sebuah cemilan baru, namanya Monte. Manis sekali, sepertinya dibuat dari ketan, dan ada “mutiara” pinknya. Enak!

Aku dan Adinda bercerita ke kak Melly tentang kegiatan kami sehari-hari. Ternyata Adinda suka berlomba figure skating!
Aku juga bercerita tentang bermacam-macam jurus wushu kepada kak Melly, dan juga bercerita bahwa aku menjual kaos bergambar customize (the De.N.eL.s customize clothes)
Kak Inu langsung mengambil HPnya dan bertanya kepadaku apa Facebook page-nya 😀

Setelah mengobrol, aku mengajak Adinda untuk melanjutkan gambar di tote bag.
“Dinda, itu di atasnya nama kita bertiga, kasih tulisan Melly-Inu-Kukuh,” kataku. Karena kakak-kakak menginap di tempat yang sama bersama aku, Adinda, dan Donna, maka sekalian saja suvenirnya dari kami berenam.
“Wahh… makasih yaa..” kata kak Melly.

Saat aku dan Adinda sedang menggambar, Andro, Kaysan, Ceca dan Zaky datang.
“Wuih, ini buat suvenir tuan rumah yak?” tanya Zaky sambil melihat gambarnya kami.
“Iya,” jawabku dan Adinda. “Buatin satu dong buat kita. Kita kan temen,” ledek Ceca.

Tak lama kemudian, Yudhis dan Fattah datang. Setelah semuanya datang kami menulis logbook kami.

“Yla, Adinda, malam ini jadi ditelpon ya,” kata kak Melly. Yey! Sudah tidak sabar mendengar suara vyel!

Salah satu hpnya berdering. Kalau tidak salah, Yudhis mengangkatnya, lalu memberikan hpnya kepadaku. Aku keluar rumah dan menyapa ibuku dan ayahku. Aku pertama mengobrol dengan ayahku, menyapa vyel, lalu berganti ke ibuku.
“Vyel sedih nggak masuk PON?”
“Nggak tuh, hepi-hepi aja.”
“Oh, syukur deh. Besok mo liat sunrise trus mo ngambil air suci di ganjuran buat kalian.”
“Asikk.. Oh iya, besok di depok, kamu tanding aja. Tanding pedang ama tombak.”
Ibuku memberitahu bahwa besok aku sebaiknya tanding, karena musuhku yang kemarin lolos seleksi tidak ikut. 😀
Aku melompat kegirangan, karena kesempatanku untuk menang banyak. Bahkan Yudhis dan yang lainnya kebingungan melihat aku lompat kegirangan 😛

Setelah aku menelepon, aku masuk ke dalam dengan perasaan masih kegirangan, lalu lanjut menulis logbook.
Tak lama kemudian, hpnya berdering, itu ibunya Adinda.
Selesai Adinda menelepon, Adinda di “bully” oleh Zaky, Andro, Ceca, dan Yudhis. Katanya mereka, Adinda kan lumayan baru di Oase, belum pernah nangis, maka mereka akan membuat Adinda nangis.

Kalau dulu waktu aku masih baru di Oase, sepertinya tidak ada yang berani membuat aku nangis, karena salah satu alasannya adalah karena aku atlit wushu 🙂

Yudhis: “Adinda udah kasih tau ibumu kita mo perpanjang seminggu?”
Adinda: “Hah? Bukannya nggak perpanjang?”
Yudhis “Apaan, kan kita mo perpanjang! Kamu nggak bilang ibumu?”
Adinda: “Nggak…”
Zaky: “Ya udah deh, gak ikut perpanjang deh kamu.”
Andro: “Iyak, nanti elu ama Yla doang yang ke jakarta, kita lanjut :P”
Adinda: “Emang yla bilang ke ibunya?”

Saat itu, karena kepalanya Zaky menghadap ke arahku dan membelakangi Adinda, Zaky memberi kode untukku agar bilang aku telah memberitahu ibuku.
Aku pertamanya tidak begitu mengerti kodenya Zaky, namun lama-lama aku mengerti, dan langsung menjawab pertanyaan Adinda.
Aku: “Ah, iya! Aku tadi udah bilang ibuku, tapi kan karena aku musti tanding, aku balik ke Jakarta deh :P.”

Mukanya Adinda langsung agak panik. Aku agak kasihan dengan Adinda, maka aku langsung berkata bahwa itu bohong.
Aku: “Nggak, nggak kok, aku tadi nggak bilang kalo perpanjang :D”
Adinda: “Tuh kan, keliatan dari mukanya kalian, boong >:(“

Setelah kami bercanda-canda dan logbook kami sudah selesai, kakak-kakak pergi menghilang entah kemana.
“Lho, kakak-kakak kemana?” tanyaku kepada Zaky, Ceca, Andro, dan Fattah.
“Lagi pada diskusi di ruangan sebelah. Tau deh diskusi apaan,” jawab Ceca.

Lama sekali kakak-kakak berdiskusi sebelum akhirnya mereka keluar.
Kami disuruh duduk melingkar, lalu kak Kukuh menyalakan 2 lilin dan mematikan lampunya.

Apa yang akan kami lakukan? Gelap-gelapan, duduk melingkar, di tengah ada lilin, ngapain ya?
Kami lalu disuruh untuk mengeluarkan bolpen/spidol/pensil dan sebuah kertas dari buku kami masing-masing yang gampang untuk di robek.

IMG_20161218_213526_HDR.jpg
Apa yang akan kami lakukan ya? CREDIT: Jaladwara

Karena beberapa dari kami kertasnya tidak bisa di robek, Andro, Ceca, dan Adinda meminta dariku. Aku membawa sebuah binder kecil, maka kertasnya gampang diambil dan ditaruh.

Kami disuruh menulis apa yang membuat kami terkesan, hal baik yang ditemukan dalam diri kami, kelemahan/kekurangan yang kami temui, peran baik kami di dalam kelompok masing-masing, kelemahan kami di dalam kelompok masing-masing, dan apa yang akan dilakukan setelah Big Trip. kami juga mendapat pujian dan kritik. Aku dapat dari Ceca:

Pujian: Yla tulisannya bagus dibanding aku
Kritik: Hasil eksplorasi jadi animasi

Setelah itu, kami disuruh untuk mengumpulkan kertasnya ke kak Kukuh. Setelah itu, diskusi malam ini selesai.
Ternyata ada lilin dan gelap-gelapan untuk gantinya api unggun. Tadinya kakak-kakak ingin membuat api unggun, namun karena cuacanya gerimis, akhirnya kami di dalam.
Semuanya pulang, lalu aku tidur.

Perasaanku hari ini:
Sedih, karena akan pulang, dan karena akan meninggalkan orang-orang ramah jogja 😦

Laporan keuangan: 

Tahu mentah = Rp. 5,000
Nasi bakar ayam kampung = Rp. 10,000
Teh manis hangat = Rp. 3,000
Angkudes dan sepeda kepada kak Inu = Rp. 82,000

Total pengeluaran: Rp. 100,000

Sisa saldo: Rp. 229,000

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s