“Meet the Master: Mastering Superhero Figure”

Selasa, 18 April 2017.

Hari ini, aku, Vyel, dan temanku, Azriel mengikuti workshop “Meet the Master: Mastering Superhero Figure” dengan Dave Ross, di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), TIM (Taman Ismail Marzuki).

Aku dan Azriel ditugaskan untuk membuat jurnal kepada teman-teman yang tidak bisa ikut.
Untuk temen-temen yang tidak bisa ikut, semoga kalian bisa ikut mengerti apa yang Dave ajarkan ya 🙂

Dave Ross adalah seorang komikus yang bekerja di berbagai studio, seperti Marvel, DC, dan sekarang mengerjakan di studio Dark Horse
Dave Ross adalah lulusan Program Animasi di Kampus Sheridan, Kanada.
Dave pernah mengerjakan komik Spiderman, Daredevil, Avengers Westcoast, Batgirl, Catwoman, Punisher, Captain America, Excalibur, Birds of Prey, Aliens, Alpha Fight, Star Trek, dan Star Wars: Dark Times.

Sebelum dimulai, kami diberikan masing-masing satu pulpen dari Kompas dan satu notebook kecil untuk mencatat. (Lumayan :D)
Acara pun dimulai.
Dave memulai dengan menunjukkan berbagai sketsa yang ia telah buat untuk berbagai komik. Dave bilang, bahwa untuk membuat gaya Superhero, harus dilebih-lebih kan.
Menurut Dave, sketsa para karakternya harus dimulai dari membuat manekin dengan pose yang kita mau. Manekin-manekin itu sebaiknya dibuat dengan otot yang berkotak-kotak, agar karakter kita terlihat kokoh, tidak lemas.
Saat menggambar karakternya, jangan mulai dari kepala, melainkan dari inti tubuh, yaitu badan (dada, bahu, perut) dan pinggang. Dengan begitu, tangan, kaki, dan kepala akan mengikut, dan menghasilkan gambar yang lebih natural.

DSC_1327
Mendengarkan penjelasan Dave. SOURCE: G. Lini Hanafiah

Karena Dave lulusan Animasi, ia bilang bahwa para animator itu punya kelebihan yang para illustrator tidak punya, yaitu gerakan karakter. Karena para animator itu mempelajari gerakan-gerakan karakter agar karakternya terlihat hidup, maka para animator dapat membuat gerakan karakter yang lebih natural. “Jadi, gambarlah pose-pose yang natural.” kata Dave.
Untuk membuat tokoh superhero sendiri, carilah referensi dari tokoh-tokoh terkenal/aktor-aktris.
Untuk membuat sketsa postur, bayangkan figur itu tembus pandang, agar kita bisa melihat secara keseluruhan postur figur, dan akan lebih mudah untuk menggambarnya.
Untuk style, menurut Dave dan om Tony, kita harus pede dengan style kita sendiri, dan tidak boleh fokus di satu artist.
Menurut Dave, saat mengerjakan sebuah gambar, lebih baik memecah-belah deadline. Seperti misalnya deadline 40 menit, 15 menit untuk tubuh dan pinggang, 15 menit untuk kaki, 10 menit untuk kepala, lalu ditambah kira-kira 5 menit untuk merapikan detail atau jika sedang kebingungan.
Karena jika tidak ada deadline, kita bisa-bisa hanya konsen kepada satu titik, dan terlalu banyak detail sehingga akhirnya kelamaan.

Akhirnya tiba waktunya untuk tanya jawab. Beberapa orang bertanya kepada Dave dan om Tony, dan hanya beberapa intinya aku catat

  • Mood tidak boleh menghalangi gambar kita.

“Jika sudah profesional, kita tidak bisa tergantung mood. Ibaratnya kita harus bisa jadi ‘mesin’,” kata om Tony

  • Untuk menggambar jari, ini beberapa tipsnya:

Semakin banyak detail pada jari, semakin terlihat hidup. Gambar telunjuk dan kelingking terlebih dahulu, baru jari tengah dan jari manis mengikuti.

Aku sebenarnya ingin bertanya kepada Dave tentang sejak umur berapa ia menggambar, dan apa yang membuat ia suka gambar.
Namun karena malu aku melewatkan kesempatan itu 😦

Setelah sesi tanya-jawab, Dave melanjutkan dengan mendemonstrasikan bagaimana ia menggambar sketsa.
Setelah Dave mendemonstrasikan sketsanya, acara hampir selesai.
Waktunya untuk Dave melakukan book signing.

Aku, Vyel, dan Azriel ikut mengantri untuk tanda tangan Dave.
Aku dan Vyel mendapat sebuah tanda tangan di notebook kecil kami masing-masing, Azriel mendapat tanda tangan Dave di salah satu komik yang Dave buat, dan di dua notebook kecilnya. Selesai mendapatkan tanda tangannya Dave, aku, Vyel, dan Azriel pun berfoto dengan Dave.
Kami juga sempat mendapatkan tanda tangannya om Tony, dan berfoto dengan om Tony.

DSC_1328
Mendapatkan tanda tangan Dave :D. SOURCE: G. Lini Hanafiah
DSC_1332
Berfoto dengan Dave setelah tanda tangan. SOURCE: G. Lini Hanafiah
DSC_1337
Berfoto dengan om Tony dan tanda tangannya. SOURCE: G. Lini Hanafiah

Keesokan harinya aku langsung mempraktekkan menggambar mulai dari inti tubuhnya. Pertamanya susah karena belum terbiasa, namun lanjut ke tangan, kaki, kepala, dan lainnya menjadi gampang 😀

collage
Gambarku sebelum mengikuti workshop dan sesudah 🙂

Mengikuti workshopnya sangat membantu kepada hasil menggambarku 😀
Dan semoga membantu kalian juga 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s